Pakar: Plastik Hitam Pembungkus Daging Kurban Berbahaya, Mengandung Logam Berat dan Zat Karsinogenik

- Jumat, 29 Mei 2026 | 21:20 WIB
Pakar: Plastik Hitam Pembungkus Daging Kurban Berbahaya, Mengandung Logam Berat dan Zat Karsinogenik

Penggunaan kantong plastik hitam untuk membungkus daging kurban masih lazim ditemukan di tengah masyarakat setiap perayaan Idul Adha. Namun, kebiasaan ini justru mendapat sorotan dari para pakar karena dinilai tidak aman bagi kesehatan.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Profesor Agustino Zulys, menjelaskan bahwa plastik hitam bukanlah kemasan yang dirancang untuk kontak langsung dengan bahan pangan. Dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, ia mengungkapkan bahwa plastik hitam berasal dari bahan daur ulang limbah elektronik, seperti casing televisi, komputer, dan kabel. Artinya, benda yang sebelumnya digunakan sebagai pembungkus alat listrik kini beralih fungsi menjadi pembungkus daging kurban.

“Plastik hitam yang sering dipakai untuk bungkus daging ternyata bukan plastik biasa. Plastik hitam berasal dari daur ulang limbah elektronik,” kata Prof. Zulys dalam pernyataannya, Jumat (29/5/2026).

Dari hasil penelitian, ia menyebutkan bahwa lebih dari 600 sampel plastik hitam mengandung bahan anti api. Selain itu, plastik tersebut juga mengandung logam berat seperti timbal, kadmium, merkuri, kromium, bahkan antimon. Pewarna hitam yang digunakan, yakni carbon black, sengaja ditambahkan untuk menyembunyikan kontaminasi dari bahan daur ulang.

“Zat-zat ini sebenarnya dipakai untuk pembungkus elektronik, bukan untuk makanan,” tegasnya.

Berbagai zat berbahaya itu, menurut Prof. Zulys, dapat berpindah dari plastik ke makanan apabila terkena panas atau mengalami kontak langsung dalam waktu yang cukup lama. Dampaknya pun tidak bisa dianggap remeh. Jika tidak sengaja dikonsumsi, zat tersebut berpotensi menyebabkan gangguan saraf, kerusakan ginjal, gangguan hormon, hingga risiko karsinogenik.

“Efeknya bisa menimbulkan gangguan saraf, kerusakan ginjal, gangguan hormon, dan potensi karsinogenik. Artinya, ia boleh dipakai untuk keperluan lain tapi jangan untuk pembungkus makanan karena kita tidak tahu plastik itu berasal dari mana,” ujar Prof. Zulys.

Sebagai alternatif, ia menyarankan masyarakat mengganti plastik hitam dengan wadah yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Daun pisang dan daun jati, misalnya, bisa menjadi pilihan alami yang aman. Selain itu, wadah yang dapat digunakan kembali seperti kotak makanan atau besek juga direkomendasikan. Apabila tetap ingin menggunakan plastik, Prof. Zulys mengingatkan untuk memilih plastik bening yang telah bersertifikat food grade.

“Lebih aman dan terkontrol untuk kemasan makanan,” pungkasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar