Iran Protes ke Kuwait Soal Insiden Jatuhnya Jet Tempur AS

- Selasa, 03 Maret 2026 | 12:55 WIB
Iran Protes ke Kuwait Soal Insiden Jatuhnya Jet Tempur AS

Iran tak terima. Pemerintahnya melayangkan protes keras ke Kuwait, menyusul penjelasan resmi dari otoritas setempat soal insiden jatuhnya tiga jet tempur F-15 milik Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan tegas menyatakan negaranya akan mengirim nota protes resmi terkait klaim penembakan itu.

Semua ini berawal dari pengumuman militer AS yang cukup mencengangkan. Mereka mengakui bahwa sistem pertahanan udara Kuwait yang notabene buatan Amerika sendiri ternyata secara tidak sengaja mencegat dan menembak jatuh ketiga pesawat tempur AS itu pada Minggu malam lalu. Sebuah kesalahan yang memalukan, tentu saja.

Di sisi lain, ada perkembangan lain yang justru datang dari Iran. Pangkalan Pertahanan Udara Khatam Al-Anbiya Iran pada Senin (2/3) lalu mengklaim hal serupa. Mereka menyebut Angkatan Bersenjata Iran berhasil menjatuhkan sebuah jet tempur F-15 AS yang canggih di dekat perbatasan dengan Kuwait. Jika klaim ini benar, ini adalah kali pertama dalam 27 tahun terakhir sebuah jet tempur AS ditembak jatuh.

Berbicara pada jaringan berita IRIB, Araghchi mendesak transparansi penuh dari Kuwait soal narasi yang mereka sodorkan.

“Kalau memang benar pesawat-pesawat itu ditembak oleh pertahanan Kuwait, maka Kuwait harus menjelaskan: sebenarnya pesawat-pesawat AS itu ngapain sih di sana dari awal?” tanyanya dengan nada menantang.

Tak cuma itu, dia juga menyelipkan ejekan halus soal keandalan teknologi militer Barat. Baginya, ada ironi pahit ketika sistem buatan Amerika justru menghancurkan aset mereka sendiri.

“Mereka selalu bilang punya teknologi militer yang unggul, tapi kok gagal operasional berulang kali? Sistem mereka sendiri malah menargetkan pesawat mereka sendiri? Ini jelas merusak prestise,” cetus Araghchi.

Menurut sang menteri, klaim Kuwait jika terbukti juga bertentangan dengan pernyataan sejumlah negara tetangga di kawasan yang sebelumnya menjamin wilayah mereka tidak dipakai sebagai pangkalan untuk serangan AS terhadap Iran. Situasinya jadi makin rumit, dan nuansa saling tuduh pun kian menguat.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar