Dua Bocah Berblangkon Deg-degan Saat Serahkan Bunga untuk Presiden Prabowo di Seoul

- Rabu, 01 April 2026 | 07:40 WIB
Dua Bocah Berblangkon Deg-degan Saat Serahkan Bunga untuk Presiden Prabowo di Seoul

Antusiasme terpancar jelas di lobi hotel Seoul, Selasa lalu. Rombongan diaspora Indonesia, tak terkecuali anak-anak, sudah menunggu dengan tak sabar untuk menyambut kedatangan Presiden Prabowo Subianto. Mereka ingin menyaksikan sendiri sosok pemimpin negerinya.

Di antara kerumunan, dua bocah berpakaian beskap hitam lengkap dengan blangkon langsung menarik perhatian. Mereka adalah Kaindra dan Luthfi, yang mendapat kehormatan untuk menyerahkan buket bunga. Tampak jelas persiapan mereka, dari pakaian adat yang rapi hingga latihan yang sudah dilakukan sebelumnya.

Begitu Presiden Prabowo tiba dan menerima bunga, senyumnya mengembang. Dia pun menyapa kedua anak itu dengan ramah. Momen singkat itu ternyata meninggalkan kesan yang mendalam bagi Kaindra dan Luthfi.

“Ya senang, senang,”

kata mereka serempak, wajahnya berseri. Tapi, di balik kegembiraan itu, ada juga perasaan tegang yang sempat menghampiri.

“Deg-degan sih, paling deg-degan. Sama ya,”

aku Kaindra sambil tertawa kecil. Groginya muncul saat diajak berbincang langsung oleh sang Presiden.

“Ditanya namanya,”

lanjutnya, mengisyaratkan percakapan singkat yang membuat jantungnya berdebar kencang.

Menurut Kaindra, mereka sempat berlatih khusus untuk mengusir grogi itu. “Sempat latihan biar enggak grogi saja,” ucapnya. Upayanya jelas, ingin semua berjalan sempurna di depan tamu negara tertinggi.

Kedatangan Prabowo ke Seoul memang bukan sekadar kunjungan biasa. Agenda kenegaraannya padat, termasuk rencana penyambutan resmi di Blue House oleh Presiden Korea Selatan. Di sisi lain, bagi warga Indonesia di sana, kehadirannya adalah momen kebanggaan yang jarang terjadi.

Harapannya tentu besar. Kunjungan ini diharapkan bisa mengeratkan lagi hubungan kedua negara, membuka lebih banyak pintu kerja sama yang menguntungkan kedua belah pihak. Namun begitu, di luar semua agenda resmi itu, ada cerita sederhana dua anak berbangkon yang deg-degan sekaligus bangga sebuah potret manusiawi yang mungkin akan paling mereka ingat.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar