Menteri Lingkungan Hidup Dorong Tobat Ekologis sebagai Gerakan Nasional Atasi Krisis Alam

- Senin, 08 Juni 2026 | 01:30 WIB
Menteri Lingkungan Hidup Dorong Tobat Ekologis sebagai Gerakan Nasional Atasi Krisis Alam

Seruan Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, agar masyarakat melakukan tobat ekologis mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Gagasan yang disampaikan dalam konteks krisis lingkungan yang kian nyata ini dinilai memiliki bobot moral dan spiritual yang lebih kuat dibandingkan dengan slogan-slogan pelestarian alam yang selama ini bergema.

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, menilai ajakan tersebut sangat relevan dengan kondisi kerusakan lingkungan yang dihadapi Indonesia saat ini. Menurutnya, istilah tobat ekologis memiliki kekuatan moral dan spiritual yang lebih mendalam. Ia menegaskan bahwa momentum penyampaian gagasan ini sangat tepat di tengah meningkatnya ancaman krisis ekologis.

"Ajakan Pak Menteri Jumhur patut disambut positif. Momennya sangat tepat," kata Toto Izul Fatah, Minggu (8/6).

Toto menjelaskan bahwa kata "tobat" mengandung makna pengakuan atas kesalahan yang telah dilakukan, disertai penyesalan, penghentian perbuatan yang salah, serta komitmen untuk tidak mengulanginya. Dalam konteks lingkungan hidup, tobat ekologis berarti pengakuan kolektif bahwa manusia telah banyak melakukan kerusakan terhadap alam.

Ia menilai selama ini manusia cenderung memandang alam sebagai objek eksploitasi semata. Berbagai aktivitas seperti penebangan hutan tanpa pemulihan yang memadai, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, pencemaran sungai dan laut, hingga alih fungsi lahan produktif menjadi bukti bahwa pembangunan kerap mengabaikan keseimbangan lingkungan.

"Selama ini alam lebih banyak dipandang sebagai objek eksploitasi daripada sebagai ruang kehidupan yang harus dihormati dan dijaga," ujarnya.

Menurut Toto, berbagai bencana yang kini semakin sering terjadi, mulai dari banjir, longsor, kekeringan, krisis air bersih, pencemaran udara, kebakaran hutan, kerusakan pesisir hingga peningkatan suhu bumi, tidak muncul begitu saja. Ia menegaskan bahwa di balik berbagai persoalan tersebut terdapat faktor keserakahan, kelalaian, pembiaran, hingga kebijakan yang kurang berpihak pada kelestarian lingkungan.

Meski demikian, Toto menekankan bahwa tobat ekologis tidak boleh berhenti pada tataran retorika. Seperti halnya konsep tobat dalam ajaran agama, perubahan harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan kebijakan yang konkret. Ia mendorong pemerintah untuk segera menerjemahkan gagasan tersebut dalam langkah-langkah strategis, seperti mengevaluasi izin usaha yang berpotensi merusak lingkungan, menindak perusahaan pencemar, mempercepat rehabilitasi kawasan kritis, serta menghentikan pembangunan yang melampaui daya dukung alam.

Di sisi lain, Toto mengingatkan agar tanggung jawab menjaga lingkungan tidak hanya dibebankan kepada masyarakat. Menurutnya, dunia usaha dan industri besar juga harus menjadi bagian penting dalam gerakan tobat ekologis.

"Jangan sampai masyarakat diminta mengurangi penggunaan plastik dan menanam pohon, sementara industri besar terus membuang limbah, merusak hutan, dan mengeruk sumber daya alam tanpa pengawasan yang tegas," katanya.

Toto juga menyambut positif gagasan penanaman dua miliar pohon yang disampaikan Menteri Jumhur. Program tersebut dinilai berpotensi memperbaiki tutupan lahan, meningkatkan penyerapan karbon, menjaga sumber daya air, mengurangi risiko banjir dan longsor, serta memulihkan ekosistem yang rusak. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program penghijauan tidak boleh hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam.

Pemerintah perlu menjelaskan secara rinci jenis pohon yang akan ditanam, lokasi penanaman, luas lahan yang tersedia, mekanisme perawatan, hingga sumber pendanaannya. Menurut Toto, pengalaman menunjukkan bahwa menanam pohon relatif mudah dilakukan, tetapi memastikan pohon tersebut tumbuh dan bertahan dalam jangka panjang merupakan tantangan yang jauh lebih besar.

"Ukuran keberhasilan bukan berapa banyak bibit yang ditanam dalam seremoni, tetapi berapa banyak pohon yang masih hidup setelah satu tahun, tiga tahun, bahkan sepuluh tahun," ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemilihan jenis pohon yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Di kawasan sumber air, misalnya, diperlukan tanaman yang mampu memperkuat fungsi hidrologis. Sementara di daerah rawan longsor dibutuhkan pohon dengan sistem perakaran yang kuat, sedangkan di kawasan perkotaan diperlukan pohon peneduh sekaligus penyerap polusi. Untuk wilayah pedesaan, Toto mendorong pengembangan tanaman produktif yang tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.

Dengan pendekatan yang terukur dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, Toto berharap gagasan tobat ekologis dapat menjadi gerakan nasional yang mendorong perubahan perilaku sekaligus memperkuat komitmen Indonesia dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar