Lantas, bagaimana kalau ada yang ingin mempertahankannya? Hatma menyarankan langkah yang lebih bijak: pengecekan mendalam oleh ahli. Misalnya, meminta bantuan tim vegetasi UGM untuk memindai kondisi batangnya.
Jika bagian dalamnya sudah keropos, risikonya untuk tumbang sangat besar. Tapi, katanya, masih ada opsi lain. Cabang dan ranting yang berbahaya bisa dipangkas, sementara batang utamanya dipertahankan sebagai simbol atau tetenger.
Namun begitu, batang yang mati lambat laun akan membusuk. Jadi, pemantauan rutin mutlak diperlukan untuk meminimalkan risiko. Pada akhirnya, keselamatan adalah yang utama. "Kalau memang dia ternyata risikonya terlalu tinggi, tidak bisa dipertahankan, ya, harus direlakan buat ditebang," tegas Hatma. Teknologi seperti penyangga batang, yang lazim di negara maju, bisa jadi solusi. Tapi intinya tetap sama: "Saya setuju dipertahankan tapi faktor keselamatan dan risiko harus dipikir benar."
Fenomena Getah Merah: Penjelasan Ilmiah
Lalu, bagaimana dengan getah merah yang menyerupai darah saat pemangkasan? Banyak yang menghubungkannya dengan hal mistis. Hatma dengan lugas memberikan penjelasan ilmiah.
Jadi, itu murni sifat alami pohon tersebut, bukan pertanda apapun. Persoalannya kini kembali ke pilihan sulit antara nostalgia dan keamanan warga sekitar.
Artikel Terkait
DBMBK Sulsel Sebut Curah Hujan Tinggi Penyebab Kerusakan Dini Jalan Hertasning Makassar
Kapolri Lantik Brigjen Totok Suharyanto Pimpin Kakortas Tipidkor
Musisi AS Tuduh Serangan ke Iran sebagai Pengalihan dari Skandal Epstein
Pemimpin Tertinggi Iran Unggah Ayat Al-Quran, Bantah Klaim Kematian dari AS