Kritik lain datang dengan nada lebih serius. Seorang netizen mengutip hadits tentang niat, mengingatkan bahwa segala amal bergantung pada tujuan di baliknya. Implikasinya jelas: apakah naik kereta ini benar-benar untuk merakyat, atau sekadar untuk pamer?
Di sisi lain, ada juga yang menyindir langsung dengan kata-kata pedas. "Pencitraanmu norak!" tulis seorang pengguna X lainnya.
Fenomena ini seakan mengulang pola yang kerap kita lihat. Beberapa pejabat memang gemar menunjukkan diri sedang menggunakan transportasi umum, lengkap dengan dokumentasi yang terlihat tidak spontan. Alih-alih terkesan rendah hati, yang muncul justru kesan pencitraan yang dibuat-buat.
Lucu-lucu sekaligus menggelitik. Begitulah tingkah polah sejumlah pejabat kita. Di satu sisi, mereka ingin terlihat dekat dengan rakyat. Namun di sisi lain, cara yang dipilih justru menimbulkan tanya: sejauh mana keasliannya?
Pertanyaan itu tentu hanya bisa dijawab oleh sang pejabat sendiri. Yang jelas, di mata publik, aksi seperti ini seringkali terlihat sebagai drama singkat yang kurang meyakinkan.
Artikel Terkait
Tiga Penghuni Terjebak Lift Macet di Apartemen Kuningan, Tim Damkar Turun Tangan
AILA Indonesia Tolak Keras Upaya Uji Materi Pasal Perkawinan yang Sah
Yayasan Al I’tisham Bogor Luncurkan Bumi Ta’aruf, Jawab Keresahan Pernikahan Umat
DPR Desak Kemenkes Hentikan Rantai Perundungan di Pendidikan Dokter Spesialis