Nandang Sutisna dan Pandji Soroti Akrobatik Politik Gibran

- Selasa, 13 Januari 2026 | 17:20 WIB
Nandang Sutisna dan Pandji Soroti Akrobatik Politik Gibran

Nandang Sutisna tak menyembunyikan rasa kesalnya.

“Alasan saya sejalan dengan Pandji,” ujarnya. Ia mengaku jarang sekali merasa marah sedemikian hebat dalam urusan politik. Tapi naiknya Gibran Rakabuming Raka ke kursi wakil presiden dengan cara yang ia sebut “akrobatik” itu, benar-benar memantik amarah. Baginya, itu bentuk pelecehan terhadap republik yang ditegakkan dengan pengorbanan nyawa.

Di sisi lain, Pandji Pragiwaksono punya sorotan yang lebih tajam. Ia menuding ada praktik membangun dinasti politik yang ia anggap sebagai masalah paling serius.

“Menurut gue yang paling parah adalah ngebangun dinasti, melakukan praktek politik dinasti. Itu paling paling parah. Karena kalau di level Presiden (Jokowi) nyontohin politik dinasti, ini mau ngeberhentiin di level kabupaten gimana,”

Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah obrolan dengan TEMPO, di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2024. Saat itu, Gibran yang syarat usianya sempat jadi ganjalan akhirnya bisa lolos berkat keputusan Mahkamah Konstitusi yang menuai kontroversi. Kebetulan, paman Gibran saat itu memang menjabat sebagai Ketua MK.

Semua proses itu, bagi Pandji, adalah rangkaian akrobatik politik yang sulit diterima.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar