Nandang Sutisna tak menyembunyikan rasa kesalnya.
“Alasan saya sejalan dengan Pandji,” ujarnya. Ia mengaku jarang sekali merasa marah sedemikian hebat dalam urusan politik. Tapi naiknya Gibran Rakabuming Raka ke kursi wakil presiden dengan cara yang ia sebut “akrobatik” itu, benar-benar memantik amarah. Baginya, itu bentuk pelecehan terhadap republik yang ditegakkan dengan pengorbanan nyawa.
Di sisi lain, Pandji Pragiwaksono punya sorotan yang lebih tajam. Ia menuding ada praktik membangun dinasti politik yang ia anggap sebagai masalah paling serius.
“Menurut gue yang paling parah adalah ngebangun dinasti, melakukan praktek politik dinasti. Itu paling paling parah. Karena kalau di level Presiden (Jokowi) nyontohin politik dinasti, ini mau ngeberhentiin di level kabupaten gimana,”
Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah obrolan dengan TEMPO, di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2024. Saat itu, Gibran yang syarat usianya sempat jadi ganjalan akhirnya bisa lolos berkat keputusan Mahkamah Konstitusi yang menuai kontroversi. Kebetulan, paman Gibran saat itu memang menjabat sebagai Ketua MK.
Semua proses itu, bagi Pandji, adalah rangkaian akrobatik politik yang sulit diterima.
Artikel Terkait
Polisi Purbalingga Gagalkan Dua Modus Penyalahgunaan Subsidi LPG dan BBM
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Dharma Santi dan Sampaikan Permohonan Maaf
Ibu Laporkan Perawat RSHS Bandung atas Dugaan Percobaan Penculikan Bayi
Kejati Sulsel Periksa Mantan Pimpinan DPRD Terkait Korupsi Bibit Nanas Rp60 Miliar