Nandang Sutisna tak menyembunyikan rasa kesalnya.
“Alasan saya sejalan dengan Pandji,” ujarnya. Ia mengaku jarang sekali merasa marah sedemikian hebat dalam urusan politik. Tapi naiknya Gibran Rakabuming Raka ke kursi wakil presiden dengan cara yang ia sebut “akrobatik” itu, benar-benar memantik amarah. Baginya, itu bentuk pelecehan terhadap republik yang ditegakkan dengan pengorbanan nyawa.
Di sisi lain, Pandji Pragiwaksono punya sorotan yang lebih tajam. Ia menuding ada praktik membangun dinasti politik yang ia anggap sebagai masalah paling serius.
“Menurut gue yang paling parah adalah ngebangun dinasti, melakukan praktek politik dinasti. Itu paling paling parah. Karena kalau di level Presiden (Jokowi) nyontohin politik dinasti, ini mau ngeberhentiin di level kabupaten gimana,”
Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah obrolan dengan TEMPO, di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2024. Saat itu, Gibran yang syarat usianya sempat jadi ganjalan akhirnya bisa lolos berkat keputusan Mahkamah Konstitusi yang menuai kontroversi. Kebetulan, paman Gibran saat itu memang menjabat sebagai Ketua MK.
Semua proses itu, bagi Pandji, adalah rangkaian akrobatik politik yang sulit diterima.
Artikel Terkait
AS Monaco Resmi Aktifkan Opsi Pembelian Ansu Fati dari Barcelona Senilai 11 Juta Euro
James Milner Pensiun di Usia 40 Tahun, Tutup Karier 24 Musim dengan Rekor 658 Laga di Premier League
Kemenag Sembelih 12 Sapi dan 6 Kambing, Salurkan 1.200 Paket Daging Kurban serta Santunan Anak Yatim
Pelaku Curanmor Bersenpi Tewas Ditembak, Polisi Ringkus Satu Komplotan di Tulang Bawang