Kontraktor BUMN Terkapar, Hanya Total Bangun Persada yang Tembus Target

- Minggu, 07 Desember 2025 | 10:50 WIB
Kontraktor BUMN Terkapar, Hanya Total Bangun Persada yang Tembus Target

Beberapa emiten konstruksi sudah mulai buka-bukaan soal capaian kontrak baru mereka tahun ini. Tak cuma itu, target untuk 2026 pun mulai diumbar. Tapi, gambaran yang muncul ternyata nggak seragam. Ada yang solid, ada pula yang masih terlihat limbung.

Menurut riset Stockbit yang dirilis Jumat (5/12/2025), realisasi kontrak baru hingga kuartal akhir tahun ini memang beragam. Situasinya cukup menantang, sih. Pendanaan proyek masih ketat, sementara perhatian pemerintah lebih banyak tersedot ke pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Nah, di tengah kondisi itu, PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) justru menunjukkan kinerja yang paling mantap. Hingga pertengahan November 2025, mereka sudah mengantongi Nilai Kontrak Baru (NKB) sebesar Rp5,27 triliun. Angka itu bahkan melampaui target tahun ini yang ‘cuma’ Rp5 triliun, atau sekitar 5 persen di atasnya.

Lain cerita dengan PT Adhi Karya Tbk (ADHI). Sepanjang Januari-November 2025, NKB mereka tercatat Rp14,1 triliun. Jumlah itu turun 7 persen dibanding periode sama tahun lalu. Yang lebih mengkhawatirkan, realisasi itu baru mencakup 50-56 persen dari target tahun ini yang dicanangkan di kisaran Rp25 hingga Rp28 triliun.

Kalau lihat data hingga kuartal ketiga, situasinya makin jelas. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT PP Tbk (PTPP) sama-sama punya catatan yang belum menggembirakan.

WIKA, misalnya. NKB mereka anjlok tajam 60 persen year-on-year, cuma Rp6,19 triliun. Itu baru memenuhi 36 persen dari target Rp17 triliun di 2025. Angka ini sekaligus mempertegas tekanan berat yang masih membelit perusahaan, terutama terkait restrukturisasi dan urusan pembiayaan proyek.

PTPP sedikit lebih baik. Meski NKB mereka turun 18,8 persen yoy menjadi Rp16,88 triliun, setidaknya capaian itu sudah menutup 59 persen dari target tahun ini sebesar Rp28,5 triliun. Dibandingkan WIKA dan ADHI, posisi PTPP masih lebih baik.

Lalu, bagaimana prospek ke depan?

Beberapa emiten sudah memberikan panduan untuk 2026. TOTL, misalnya, tampaknya memilih bermain aman. Mereka membidik NKB Rp5 triliun, flat sama seperti target 2025. Target pendapatannya Rp3,8 triliun.

ADHI juga terlihat konservatif. Mereka menetapkan target NKB Rp23,8 triliun untuk tahun depan, yang artinya turun 5-15 persen dari target tahun ini.

Berbeda dengan keduanya, WIKA justru tampil lebih agresif. Mereka menargetkan NKB minimal Rp20 triliun di 2026, naik setidaknya 18 persen dari target tahun ini. Sementara PTPP masih belum mengumumkan angka targetnya.

Dari rasio pencapaian NKB terhadap target 2025, Stockbit memberi peringkat. TOTL ada di posisi teratas, disusul oleh PTPP, ADHI, dan terakhir WIKA.

Menurut analis Stockbit, pendekatan TOTL dan ADHI untuk tahun depan cenderung hati-hati. Sebaliknya, WIKa memilih langkah yang lebih berani dengan menaikkan target secara signifikan.

Namun begitu, realisasi sepanjang 2025 ini menunjukkan satu hal: tantangan besar masih menggunung. Butuh usaha ekstra, terutama bagi emiten BUMN itu, untuk bisa benar-benar pulih.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar