Lalu, bagaimana prospek ke depan?
Beberapa emiten sudah memberikan panduan untuk 2026. TOTL, misalnya, tampaknya memilih bermain aman. Mereka membidik NKB Rp5 triliun, flat sama seperti target 2025. Target pendapatannya Rp3,8 triliun.
ADHI juga terlihat konservatif. Mereka menetapkan target NKB Rp23,8 triliun untuk tahun depan, yang artinya turun 5-15 persen dari target tahun ini.
Berbeda dengan keduanya, WIKA justru tampil lebih agresif. Mereka menargetkan NKB minimal Rp20 triliun di 2026, naik setidaknya 18 persen dari target tahun ini. Sementara PTPP masih belum mengumumkan angka targetnya.
Dari rasio pencapaian NKB terhadap target 2025, Stockbit memberi peringkat. TOTL ada di posisi teratas, disusul oleh PTPP, ADHI, dan terakhir WIKA.
Menurut analis Stockbit, pendekatan TOTL dan ADHI untuk tahun depan cenderung hati-hati. Sebaliknya, WIKa memilih langkah yang lebih berani dengan menaikkan target secara signifikan.
Namun begitu, realisasi sepanjang 2025 ini menunjukkan satu hal: tantangan besar masih menggunung. Butuh usaha ekstra, terutama bagi emiten BUMN itu, untuk bisa benar-benar pulih.
Artikel Terkait
Padel dan Optimisme: AEI Gelar Turnamen untuk Hangatkan Pasar Modal 2026
300 Perusahaan Batu Bara Belum Ajukan RKAB 2026, ESDM Ungkap Penyebabnya
Rupiah Terengah di Atas Rp16.800, Analis Soroti Peluang di Tengah Badai
OJK Prediksi 2026: Ekonomi Indonesia Tumbuh di Tengah Gejolak Global