Ia pun memberi contoh nyata: pemberian izin konsesi tambang kepada ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah. Bagi banyak penonton, ini adalah gambaran sempurna politik timbal balik yang ia maksud.
Soal penegakan hukum, Pandji merangkumnya dalam satu frasa yang kini kerap dikutip: “no viral, no justice”. Sindiran ini menohok realitas pahit, di mana sebuah kasus baru ditangani serius setelah ramai di media sosial. Akibatnya, kepercayaan publik pada institusi hukum kian merosot. Masyarakat seolah dipaksa bergantung pada kekuatan viralitas, bukan prosedur yang semestinya.
Keluarga presiden pun tak luput dari sasaran. Privilege politik yang dinikmati Kaesang Pangarep, yang dalam waktu singkat bisa menduduki kursi ketua umum partai, jadi bahan olokan. Gaya kampanye Prabowo Subianto juga ia sentil. Namun, kritik terhadap Gibran Rakabuming Raka-lah yang paling menyulut perbincangan, bahkan sampai memancing respons dari figur publik seperti Tompi.
Dan bagian penutupnya? Itu yang paling panas. Sebuah cuplikan yang beredar luas di Twitter, menunjukkan reaksi penonton yang tertawa sekaligus tercengang. Seolah-olah Pandji menyimpan ledakan terakhir untuk akhir pertunjukan.
Maka, wajar saja kalau kemudian muncul desakan untuk "Mens Rea 2". Seperti kata Kimberly Rebecca, masih banyak yang perlu ditertawakan atau lebih tepatnya, dikritik habis-habisan.
Artikel Terkait
KPK Selidiki Aliran Dana Kuota Haji ke Ketua Bidang Ekonomi PBNU
Wamendagri Soroti Lonjakan Sampah, Aglomerasi Jadi Solusi Kolaboratif
Ray Rangkuti Peringatkan Wacana Pilkada Lewat DPRD: Bom Waktu Korupsi dan Sandera Politik
Teman Lama Dibunuh, Jenazah Ditemukan Terikat di TPU Bekasi