Kasus perundungan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Sriwijaya tiba-tiba ramai diperbincangkan. Isunya, seorang peserta junior di PPDS Ilmu Kesehatan Mata diduga menjadi korban bullying oleh seniornya. Kabar ini menyebar cepat di media sosial, memicu banyak reaksi.
Menurut narasi yang beredar, tekanan yang dialami korban disebut begitu berat. Sampai-sampai, ia dikabarkan sempat mencoba bunuh diri dan akhirnya memutuskan mundur dari program tersebut. Alasannya klasik: tidak tahan lagi jadi sasaran perundungan.
Lalu, seperti apa bentuk perundungannya? Rupanya bukan sekadar omongan kasar. Korban diduga dipaksa membiayai gaya hidup sang senior. Mulai dari hal-hal seperti biaya semesteran, hangout di klub malam, belanja produk skincare, sampai main olahraga padel yang mahal itu.
Bahkan, tuntutannya makin menjadi. Ada permintaan untuk membayar tiket konser, sewa rumah, tiket pesawat, hingga biaya penelitian si senior. Sungguh di luar batas kewajaran.
Merespon viralnya kasus ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun turun tangan. Mereka telah menyelesaikan investigasi mendalam terhadap dugaan tersebut.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengonfirmasi temuan tim.
Artikel Terkait
Cemburu Buta dan Percakapan WhatsApp yang Tak Terhapus, Suami Tewaskan Istri di Bekasi
Pakar Hukum Tata Negara Sindir Wacana Pilkada Lewat DPRD: Itu Bumerang, Politik Uang Malah Makin Mudah
Kantin Ibu Tatang: Warung Legendaris di Sekeloa yang Hangatkan Hati dan Perut Mahasiswa
Presiden Prabowo Sindir Pekerjaan Sebar Pesimisme: Dibayar Dollar, Tapi Jangan di Jepang