Kasus perundungan di Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Sriwijaya tiba-tiba ramai diperbincangkan. Isunya, seorang peserta junior di PPDS Ilmu Kesehatan Mata diduga menjadi korban bullying oleh seniornya. Kabar ini menyebar cepat di media sosial, memicu banyak reaksi.
Menurut narasi yang beredar, tekanan yang dialami korban disebut begitu berat. Sampai-sampai, ia dikabarkan sempat mencoba bunuh diri dan akhirnya memutuskan mundur dari program tersebut. Alasannya klasik: tidak tahan lagi jadi sasaran perundungan.
Lalu, seperti apa bentuk perundungannya? Rupanya bukan sekadar omongan kasar. Korban diduga dipaksa membiayai gaya hidup sang senior. Mulai dari hal-hal seperti biaya semesteran, hangout di klub malam, belanja produk skincare, sampai main olahraga padel yang mahal itu.
Bahkan, tuntutannya makin menjadi. Ada permintaan untuk membayar tiket konser, sewa rumah, tiket pesawat, hingga biaya penelitian si senior. Sungguh di luar batas kewajaran.
Merespon viralnya kasus ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun turun tangan. Mereka telah menyelesaikan investigasi mendalam terhadap dugaan tersebut.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengonfirmasi temuan tim.
Artikel Terkait
Al Hilal Tumbangkan Al Shabab 5-3 dalam Laga Penuh Gol
Kemlu Tegaskan Pasukan TNI ke Gaza Bersifat Non-Tempur dan Bisa Dihentikan Kapan Saja
Jadwal Imsak dan Salat Hari Ini di Pangkal Pinang, 28 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Salat untuk Makassar, 10 Ramadan 1447 H