Intelijen Ingatkan Prabowo: Ancaman Iran Bisa Terjadi di Indonesia

- Selasa, 13 Januari 2026 | 12:25 WIB
Intelijen Ingatkan Prabowo: Ancaman Iran Bisa Terjadi di Indonesia

Belajar dari Iran: Ancaman Intelijen Asing dan Demo yang Ditunggangi di Era Prabowo

Pengamat intelijen Amir Hamzah punya peringatan keras untuk pemerintahan baru Prabowo Subianto. Ia menunjuk ke Iran, di mana ratusan nyawa melayang dalam kerusuhan besar-besaran, sebagai contoh yang harus diwaspadai. Baginya, apa yang terjadi di sana bukan sekadar gejolak dalam negeri. Ada skenario geopolitik yang lebih besar, di mana krisis ekonomi dan ketidakpuasan sosial dimanfaatkan untuk melemahkan sebuah rezim.

“Iran adalah contoh klasik,” ujar Amir Hamzah dalam analisisnya, Selasa (13/1/2025).

“Krisis ekonomi, pengangguran, dan tekanan hidup rakyat bisa dimanfaatkan dalam skenario geopolitik besar. Ini peringatan keras bagi Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo.”

Menurutnya, gelombang demo di Iran tak muncul tiba-tiba. Rakyat memang terbebani inflasi dan sanksi ekonomi yang menyiksa. Namun begitu, kondisi itu justru jadi celah. Celah yang dimanfaatkan oleh operasi intelijen asing terutama Amerika Serikat yang punya kepentingan strategis menjatuhkan kekuasaan para Mullah yang dikenal keras kepala.

“Dalam geopolitik modern, jarang sekali rezim tumbang hanya oleh faktor internal,” katanya.

“Biasanya ada momentum ekonomi yang kemudian dimanfaatkan aktor luar. Lewat operasi pengaruh, perang informasi, hingga dukungan halus pada kelompok oposisi.”

Iran, lanjut Amir, sebenarnya bukan negara lemah. Mereka punya persenjataan canggih dan sistem rudal yang ditakuti. Justru karena itulah, menggoyangnya dari dalam dinilai lebih murah dan efektif ketimbang konfrontasi militer terbuka.

“Ketika Iran terlalu kuat secara militer, maka jalan yang dipilih adalah menggoyang dari dalam,” tegasnya.

Nah, pelajaran inilah yang harus dicermati Indonesia. Meski konteksnya berbeda, tantangan kita mirip: pengangguran, ketimpangan, perlambatan ekonomi. Itu semua adalah pintu masuk yang empuk.

“Kondisi ekonomi adalah pintu masuk paling efektif untuk operasi intelijen asing,” jelas Amir. “Ketika rakyat frustrasi, narasi apa pun akan mudah masuk.”

Apalagi, posisi Indonesia yang besar dan strategis di kawasan Indo-Pasifik pasti jadi bidikan banyak pihak. Kebijakan luar negeri Prabowo yang dianggap tegas dan nasionalistik berpotensi berbenturan dengan kepentingan negara-negara besar. Di sinilah ancaman itu bisa datang.

Di sisi lain, situasi dalam negeri juga perlu diawasi. Demo-demo yang mungkin muncul di awal pemerintahan ini tidak selalu hitam putih.


Halaman:

Komentar