Belajar dari Iran: Ancaman Intelijen Asing dan Demo yang Ditunggangi di Era Prabowo
Pengamat intelijen Amir Hamzah punya peringatan keras untuk pemerintahan baru Prabowo Subianto. Ia menunjuk ke Iran, di mana ratusan nyawa melayang dalam kerusuhan besar-besaran, sebagai contoh yang harus diwaspadai. Baginya, apa yang terjadi di sana bukan sekadar gejolak dalam negeri. Ada skenario geopolitik yang lebih besar, di mana krisis ekonomi dan ketidakpuasan sosial dimanfaatkan untuk melemahkan sebuah rezim.
“Iran adalah contoh klasik,” ujar Amir Hamzah dalam analisisnya, Selasa (13/1/2025).
“Krisis ekonomi, pengangguran, dan tekanan hidup rakyat bisa dimanfaatkan dalam skenario geopolitik besar. Ini peringatan keras bagi Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo.”
Menurutnya, gelombang demo di Iran tak muncul tiba-tiba. Rakyat memang terbebani inflasi dan sanksi ekonomi yang menyiksa. Namun begitu, kondisi itu justru jadi celah. Celah yang dimanfaatkan oleh operasi intelijen asing terutama Amerika Serikat yang punya kepentingan strategis menjatuhkan kekuasaan para Mullah yang dikenal keras kepala.
“Dalam geopolitik modern, jarang sekali rezim tumbang hanya oleh faktor internal,” katanya.
“Biasanya ada momentum ekonomi yang kemudian dimanfaatkan aktor luar. Lewat operasi pengaruh, perang informasi, hingga dukungan halus pada kelompok oposisi.”
Iran, lanjut Amir, sebenarnya bukan negara lemah. Mereka punya persenjataan canggih dan sistem rudal yang ditakuti. Justru karena itulah, menggoyangnya dari dalam dinilai lebih murah dan efektif ketimbang konfrontasi militer terbuka.
“Ketika Iran terlalu kuat secara militer, maka jalan yang dipilih adalah menggoyang dari dalam,” tegasnya.
Nah, pelajaran inilah yang harus dicermati Indonesia. Meski konteksnya berbeda, tantangan kita mirip: pengangguran, ketimpangan, perlambatan ekonomi. Itu semua adalah pintu masuk yang empuk.
“Kondisi ekonomi adalah pintu masuk paling efektif untuk operasi intelijen asing,” jelas Amir. “Ketika rakyat frustrasi, narasi apa pun akan mudah masuk.”
Apalagi, posisi Indonesia yang besar dan strategis di kawasan Indo-Pasifik pasti jadi bidikan banyak pihak. Kebijakan luar negeri Prabowo yang dianggap tegas dan nasionalistik berpotensi berbenturan dengan kepentingan negara-negara besar. Di sinilah ancaman itu bisa datang.
Di sisi lain, situasi dalam negeri juga perlu diawasi. Demo-demo yang mungkin muncul di awal pemerintahan ini tidak selalu hitam putih.
“Ada pola saling menunggangi,” ujar Amir.
“Ketika ada demo terhadap Prabowo, jangan dilihat hitam-putih. Bisa jadi ada aspirasi riil, tapi bisa juga ada aktor politik yang memanfaatkan situasi.”
Ia menyoroti dinamika elite, termasuk kelompok pendukung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dalam politik kekuasaan, kata dia, tidak ada ruang kosong. Jika satu pihak melemah, selalu ada yang siap mengambil manfaat.
“Ini realitas politik, bukan tuduhan personal,” katanya.
Ancaman zaman sekarang pun berubah. Bukan lagi kudeta bersenjata, melainkan perang informasi yang licin. Framing di media sosial, pembelahan opini, dan penguatan narasi negatif.
“Operasi intelijen modern bekerja lewat narasi,” papar Amir.
“Demo kecil bisa dibesarkan, isu ekonomi bisa dipelintir. Semua diperluas lewat media sosial.”
Dengan masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, perbedaan persepsi yang dikelola dengan buruk bisa memicu konflik horizontal. Itu akan melemahkan negara dari dalam.
Lantas, apa yang harus dilakukan? Amir memberikan beberapa catatan. Pertama, ekonomi harus jadi benteng utama. Penciptaan lapangan kerja dan daya beli rakyat adalah kunci. Kedua, kemampuan intelijen dan deteksi dini harus diperkuat untuk membedakan aspirasi murni dan gerakan yang dimanipulasi.
Ketiga, konflik elite harus dikelola dengan sehat, jangan sampai tumpah ke jalan. Terakhir, pemerintah harus transparan dalam menjelaskan kebijakan. Perang narasi hanya bisa dilawan dengan keterbukaan informasi.
Pada akhirnya, tragedi Iran adalah pelajaran berharga. Negara bisa runtuh bukan karena serangan dari luar, tapi karena gagal mengurus persoalan dalam negerinya sendiri.
“Sejarah membuktikan itu,” pungkas Amir Hamzah.
“Prabowo harus belajar dari Iran.”
Artikel Terkait
Chelsea Tumbang di Kandang Meski Dominan, Manchester United Curi Poin Penuh
PDIP Nilai Keanggotaan Indonesia di Board of Peace Trump Tak Lagi Relevan
Lazio Tundukkan Napoli 2-0 di Stadion Maradona
Hoffenheim Hancurkan Harapan Dortmund dengan Kemenangan Dramatis di Menit Akhir