Intelijen Ingatkan Prabowo: Ancaman Iran Bisa Terjadi di Indonesia

- Selasa, 13 Januari 2026 | 12:25 WIB
Intelijen Ingatkan Prabowo: Ancaman Iran Bisa Terjadi di Indonesia

“Ada pola saling menunggangi,” ujar Amir.

“Ketika ada demo terhadap Prabowo, jangan dilihat hitam-putih. Bisa jadi ada aspirasi riil, tapi bisa juga ada aktor politik yang memanfaatkan situasi.”

Ia menyoroti dinamika elite, termasuk kelompok pendukung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dalam politik kekuasaan, kata dia, tidak ada ruang kosong. Jika satu pihak melemah, selalu ada yang siap mengambil manfaat.

“Ini realitas politik, bukan tuduhan personal,” katanya.

Ancaman zaman sekarang pun berubah. Bukan lagi kudeta bersenjata, melainkan perang informasi yang licin. Framing di media sosial, pembelahan opini, dan penguatan narasi negatif.

“Operasi intelijen modern bekerja lewat narasi,” papar Amir.

“Demo kecil bisa dibesarkan, isu ekonomi bisa dipelintir. Semua diperluas lewat media sosial.”

Dengan masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, perbedaan persepsi yang dikelola dengan buruk bisa memicu konflik horizontal. Itu akan melemahkan negara dari dalam.

Lantas, apa yang harus dilakukan? Amir memberikan beberapa catatan. Pertama, ekonomi harus jadi benteng utama. Penciptaan lapangan kerja dan daya beli rakyat adalah kunci. Kedua, kemampuan intelijen dan deteksi dini harus diperkuat untuk membedakan aspirasi murni dan gerakan yang dimanipulasi.

Ketiga, konflik elite harus dikelola dengan sehat, jangan sampai tumpah ke jalan. Terakhir, pemerintah harus transparan dalam menjelaskan kebijakan. Perang narasi hanya bisa dilawan dengan keterbukaan informasi.

Pada akhirnya, tragedi Iran adalah pelajaran berharga. Negara bisa runtuh bukan karena serangan dari luar, tapi karena gagal mengurus persoalan dalam negerinya sendiri.

“Sejarah membuktikan itu,” pungkas Amir Hamzah.

“Prabowo harus belajar dari Iran.”


Halaman:

Komentar