Jakarta, Senin lalu suara kritik kembali terdengar lantang dari Fahri Hamzah. Dalam sebuah percakapan dengan Akbar Faizal, politisi Partai Gelora itu tak sungkan menyebut kondisi ekonomi Indonesia "berantakan". Yang dia lihat, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin kian menganga. "Jelas sudah ekonomi kita ini kan berantakan," ujarnya, dengan nada getir. "Yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah anak."
Kalimatnya itu, sederhana namun tajam, langsung menyasar persoalan klasik yang belum juga tuntas.
Tak berhenti di situ, Fahri juga menyoal peran BUMN yang dinilainya kehilangan arah. Menurutnya, badan usaha milik negara itu malah kerap bertarung di lapangan yang sama dengan usaha rakyat kecil. Padahal, semestinya mereka membangun tulang punggung ekonomi sesuai amanat konstitusi. Dia mengutip pernyataan mantan Wakil Presiden Boediono untuk menguatkan pandangannya. Intinya, BUMN seharusnya jadi penguat, bukan pesaing.
Di sisi lain, Fahri menyentuh soal suasana politik saat ini. Dia menyinggung adanya "trauma" di kalangan masyarakat sipil terhadap pemerintahan Prabowo Subianto. Trauma itu, katanya, perlu disembuhkan. "Menurut saya itu trauma harus disembuhkan karena itu berlebihan membuat asumsi-asumsi yang tidak-tidak tentang Pak Prabowo," jelasnya. Pernyataan ini seperti upaya meredakan ketegangan, sekaligus mengakui bahwa ada luka yang butuh perhatian.
Artikel Terkait
LBH Ansor Bongkar Kelemahan Hukum Kasus Gus Yaqut
Gibran Borong Ikan dan Cabai di Pasar Biak, Warga Ramai Berebut Swafoto
Intelijen Asing dan Seni Menciptakan Kekacauan: Ketika Perang Berubah Wujud
SBY Ingatkan Pemimpin: Persaudaraan Modal Mutlak, Jangan Sampai Retak