Fahri Hamzah Soroti Jurang Ekonomi dan Trauma Politik di Era Baru

- Selasa, 13 Januari 2026 | 11:25 WIB
Fahri Hamzah Soroti Jurang Ekonomi dan Trauma Politik di Era Baru

Jakarta, Senin lalu suara kritik kembali terdengar lantang dari Fahri Hamzah. Dalam sebuah percakapan dengan Akbar Faizal, politisi Partai Gelora itu tak sungkan menyebut kondisi ekonomi Indonesia "berantakan". Yang dia lihat, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin kian menganga. "Jelas sudah ekonomi kita ini kan berantakan," ujarnya, dengan nada getir. "Yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah anak."

Kalimatnya itu, sederhana namun tajam, langsung menyasar persoalan klasik yang belum juga tuntas.

Tak berhenti di situ, Fahri juga menyoal peran BUMN yang dinilainya kehilangan arah. Menurutnya, badan usaha milik negara itu malah kerap bertarung di lapangan yang sama dengan usaha rakyat kecil. Padahal, semestinya mereka membangun tulang punggung ekonomi sesuai amanat konstitusi. Dia mengutip pernyataan mantan Wakil Presiden Boediono untuk menguatkan pandangannya. Intinya, BUMN seharusnya jadi penguat, bukan pesaing.

Di sisi lain, Fahri menyentuh soal suasana politik saat ini. Dia menyinggung adanya "trauma" di kalangan masyarakat sipil terhadap pemerintahan Prabowo Subianto. Trauma itu, katanya, perlu disembuhkan. "Menurut saya itu trauma harus disembuhkan karena itu berlebihan membuat asumsi-asumsi yang tidak-tidak tentang Pak Prabowo," jelasnya. Pernyataan ini seperti upaya meredakan ketegangan, sekaligus mengakui bahwa ada luka yang butuh perhatian.

Persoalan lain yang tak kalah pelik ada di ranah hukum. Mantan Wakil Ketua DPR ini menyoroti praktik suap yang seolah jadi hal biasa. "Sogok-menyogok, sogok hakim, lawyer pekerjaannya nyogok," tegas Fahri tanpa tedeng aling-aling. Baginya, ini adalah salah satu titik kritis yang merusak fondasi negara. Praktik semacam itu, ujarnya, adalah bentuk konsolidasi terbalik yang justru melemahkan.

Lalu, apa solusinya? Fahri Hamzah menawarkan jalan keluar berupa empat konsolidasi besar. Politik, ekonomi, hukum, dan sosial keempatnya harus dibenahi secara serius. Hanya dengan cara itu, Indonesia bisa benar-benar berdiri sebagai negara yang kuat. Titik.

Pandangannya itu, terlepas dari setuju atau tidak, menyajikan potret kegelisahan yang nyata di tengah hiruk-pikuk pembangunan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar