Iran Unggul di Gelombang Protes, AS Beralih ke Meja Dialog

- Selasa, 13 Januari 2026 | 08:00 WIB
Iran Unggul di Gelombang Protes, AS Beralih ke Meja Dialog

Syaratnya jelas: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Iran tidak akan menerima dialog di bawah tekanan. Itu garis merah. Dialog harus terbuka, tidak berat sebelah. Sikap ini, menurutnya, adalah sikap resmi Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.

"Iran selalu siap berdialog secara fair," tegasnya. "Dan di waktu yang sama, selalu siap perang. Kami tidak peduli apa kata Trump atau opsi apa yang akan dia ambil. Mau damai atau perang, dua-duanya kami siap."

Kalau dilihat dari kemampuan Iran meredam gejolak kali ini di mana aksi anti-pemerintah kini berganti jadi aksi dukungan ini adalah titik krusial. Jika benar-benar stabil, ini jadi modal besar.

AS dan Israel, sekali lagi, disebut kehilangan momentum untuk menggulingkan pemerintahan yang sudah mereka incar puluhan tahun. Sebenarnya demo besar bukan hal baru; terjadi juga di 2009, 2019, 2021, dan 2023. Tapi dari segi kualitas dan momentum geopolitik, gelombang kali ini dianggap salah satu yang paling berbahaya sejak Revolusi 1979. Makanya mereka buru-buru.

Lalu, bagaimana Iran bisa menghalaunya? Pengalaman puluhan tahun hidup di bawah tekanan AS dan sekutunya jadi guru yang keras. Faktor lain adalah solidaritas bangsa Iran yang enggan negaranya jadi medan tempur para adidaya. Rakyat Iran di bawah Republik Islam punya semangat anti-penjajahan yang kuat, di level yang berbeda.

Namun, faktor kunci utamanya adalah soliditas angkatan bersenjata. Tentara reguler, polisi, Garda Revolusi IRGC, hingga Basij semua berdiri kokoh di belakang Khamenei. Satu komando, satu barisan.

Kini, ketangguhan Iran akan diuji bukan oleh intervensi asing, melainkan oleh reformasi dari dalam. Jika pemerintahan berhasil melakukan pembenahan di bidang ekonomi, politik, dan pertahanan yang membawa kesejahteraan, celah untuk musuh akan mengecil. Daya tahan Republik Islam akan makin kokoh.

Masa depan Iran ada di tangan mereka sendiri. Pada reformasi internal dan kemampuan bertahan di tengah tekanan global. Selama puluhan tahun, mereka sudah buktikan ketangguhan itu. Menggulingkan pemerintahan Iran lewat jalur luar ternyata hampir mustahil.

Jadi, retorika Trump yang tiba-tiba memilih dialog bukan karena AS berubah. Tapi karena Iran tangguh dan kuat.

Trump yang dijuluki "The Pedophile President" dan Netanyahu "The War Crime with ICC global arrest warrants" akan terus berupaya. Mereka menunggu celah sekecil apapun untuk mendongkel pemerintahan Teheran. Kapan saja.


Halaman:

Komentar