Hardcore Fest Guncang Pontianak, Buktikan Musik Ekstrem Punya Rumah di Taman Budaya

- Minggu, 14 Desember 2025 | 17:30 WIB
Hardcore Fest Guncang Pontianak, Buktikan Musik Ekstrem Punya Rumah di Taman Budaya

Pontianak – Suara gitar yang mendistorsi dan hentakan double pedal akhirnya kembali mengguncang Gedung Taman Budaya Kalimantan Barat. Setelah sekian lama absen, Sabtu (13/12/2025) lalu, Hardcore Fest sukses digelar dan menyedot perhatian ratusan penggemar musik keras di kota ini.

Tak tanggung-tanggung, ada 14 band metal dan hardcore asal Kalbar yang tampil menggebrak. Mereka adalah bukti nyata potensi lokal yang kerap luput dari sorotan. Secret Weapon, Undaground Cartel, Minority, hingga Fight for Free dan Lemondjin, semuanya menghadirkan setlist agresif yang langsung memanaskan suasana sejak awal.

Di balik riuhnya panggung, ada sosok Uray Meizar yang memprakarsai acara ini. Baginya, Hardcore Fest punya misi yang jelas.

"Tujuan utama kami sederhana: memberi ruang. Ruang bagi talenta pencinta musik Hardcore dan Metal untuk berekspresi," ujar Uray.

Ia menambahkan, Gedung Taman Budaya dipilih sebagai simbol. Bahwa musik keras pun punya tempat dalam budaya dan bisa disajikan secara positif di ruang publik.

Antusiasme penonton terlihat nyata. Mereka dari berbagai usia memadati area, ikut bergerak, dan menikmati setiap sajian. Menurut Uray, inilah inti dari semuanya.

"Ini bukan cuma konser, tapi perayaan komunitas. Energi yang diberikan 14 band lokal tadi benar-benar luar biasa. Membuktikan musik keras punya tempatnya sendiri di Pontianak," jelasnya penuh semangat.

Memang, scene musik ekstrem di sini punya karakter kuat: DIY atau Do-It-Yourself. Komunitaslah yang bergerak mandiri, bekerja sama, untuk menghidupkan acara-acara semacam ini. Hardcore Fest adalah salah satu buahnya.

Gelaran yang ditutup menjelang tengah malam itu meninggalkan kesan mendalam. Panitia berjanji inisiatif serupa akan terus digalakkan. Tujuannya agar roda pergerakan musik ekstrem di Kalbar, khususnya Pontianak, tetap berputar dan makin dikenal luas. Semangatnya jelas: jangan biarkan distorsi itu padam.

Penulis: Ade Mirza

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar