✍🏻Tengku Zulkifli Usman
Setelah tiga pekan bergolak, suasana di Iran perlahan mulai mereda. Pemerintah di Teheran mengklaim telah berhasil "menstabilkan" situasi. Tapi, tentu saja, bekas-bekasnya masih terasa. Lebih dari lima ratus nyawa melayang dalam gelombang unjuk rasa itu. Meski belum sepenuhnya pulih, kendali atas situasi kini dikatakan sudah kembali di tangan pemerintah.
Yang menarik, gelombang massa di jalanan sekarang justru didominasi oleh pendukung Republik Islam. Mereka membanjiri berbagai kota, sebuah pemandangan yang kontras dengan beberapa pekan sebelumnya.
p>Pada dasarnya, pihak berwenang Iran menyatakan tidak anti-demonstrasi. Mereka mengaku terbuka menerima aspirasi rakyat yang sudah disuarakan sejak akhir Desember tahun lalu. Namun begitu, narasi resmi menyebut ada perubahan drastis setelah tanggal 7 Januari. Aksi damai itu, menurut mereka, mulai "ditunggangi". Disusupi oleh agen-agen asing yang dikendalikan dari luar negeri, terutama seperti yang kerap dituding oleh Israel dan Amerika Serikat.Soal pemadaman internet pun punya alasan tersendiri. Pemerintah beralasan jaringan tidak mereka putus selama aksi masih damai. Internet baru diblokir ketika demonstrasi dianggap telah berubah menjadi aksi terorisme yang dilakukan oleh para "penyusup" tadi.
Nah, di saat itulah Elon Musk muncul. Atas permintaan AS, dia menyediakan akses internet Starlink untuk para demonstran. Tujuannya jelas: agar kerusuhan makin meluas. Tapi Iran tak tinggal diam. Dengan kemampuan teknologi yang mereka miliki, mereka klaim berhasil memblokir jaringan satelit yang disebut-sebut sebagai yang teraman di dunia itu. Jaringannya dihancurkan.
Menteri Luar Negeri Iran, Dr. Abbas Araghchi, memberikan pernyataan tegas. Dia menegaskan bahwa demonstrasi damai adalah hak warga Iran dan pemerintah akan terus mencari solusi di tengah tekanan embargo dan boikot internasional.
"Terutama persoalan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Iran," ujarnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Presiden Massoud Phazeskian.
Di sisi lain, dari Washington, Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang dibantah keras oleh Teheran. Trump bilang Iran yang meminta negosiasi. Menlu Iran menyebut itu kabar bohong. Menurutnya, Trump hanya melihat pemerintah Iran berhasil meredakan protes, lalu melunakkan retorika. Klaim sepihak, begitu katanya.
Memang, Araghchi mengakui ada ajakan dialog dari AS yang disampaikan utusan khusus Steve Witkoff. Tapi Iran masih mempelajarinya, belum memberi respons.
"Beberapa usulan Steve Witkoff masih mengandung sikap arogansi AS terhadap Iran," kata Menlu Iran tadi malam. "Maka Iran kemungkinan belum mau berdialog."
Syaratnya jelas: duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Iran tidak akan menerima dialog di bawah tekanan. Itu garis merah. Dialog harus terbuka, tidak berat sebelah. Sikap ini, menurutnya, adalah sikap resmi Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
"Iran selalu siap berdialog secara fair," tegasnya. "Dan di waktu yang sama, selalu siap perang. Kami tidak peduli apa kata Trump atau opsi apa yang akan dia ambil. Mau damai atau perang, dua-duanya kami siap."
Kalau dilihat dari kemampuan Iran meredam gejolak kali ini di mana aksi anti-pemerintah kini berganti jadi aksi dukungan ini adalah titik krusial. Jika benar-benar stabil, ini jadi modal besar.
AS dan Israel, sekali lagi, disebut kehilangan momentum untuk menggulingkan pemerintahan yang sudah mereka incar puluhan tahun. Sebenarnya demo besar bukan hal baru; terjadi juga di 2009, 2019, 2021, dan 2023. Tapi dari segi kualitas dan momentum geopolitik, gelombang kali ini dianggap salah satu yang paling berbahaya sejak Revolusi 1979. Makanya mereka buru-buru.
Lalu, bagaimana Iran bisa menghalaunya? Pengalaman puluhan tahun hidup di bawah tekanan AS dan sekutunya jadi guru yang keras. Faktor lain adalah solidaritas bangsa Iran yang enggan negaranya jadi medan tempur para adidaya. Rakyat Iran di bawah Republik Islam punya semangat anti-penjajahan yang kuat, di level yang berbeda.
Namun, faktor kunci utamanya adalah soliditas angkatan bersenjata. Tentara reguler, polisi, Garda Revolusi IRGC, hingga Basij semua berdiri kokoh di belakang Khamenei. Satu komando, satu barisan.
Kini, ketangguhan Iran akan diuji bukan oleh intervensi asing, melainkan oleh reformasi dari dalam. Jika pemerintahan berhasil melakukan pembenahan di bidang ekonomi, politik, dan pertahanan yang membawa kesejahteraan, celah untuk musuh akan mengecil. Daya tahan Republik Islam akan makin kokoh.
Masa depan Iran ada di tangan mereka sendiri. Pada reformasi internal dan kemampuan bertahan di tengah tekanan global. Selama puluhan tahun, mereka sudah buktikan ketangguhan itu. Menggulingkan pemerintahan Iran lewat jalur luar ternyata hampir mustahil.
Jadi, retorika Trump yang tiba-tiba memilih dialog bukan karena AS berubah. Tapi karena Iran tangguh dan kuat.
Trump yang dijuluki "The Pedophile President" dan Netanyahu "The War Crime with ICC global arrest warrants" akan terus berupaya. Mereka menunggu celah sekecil apapun untuk mendongkel pemerintahan Teheran. Kapan saja.
Artikel Terkait
Nenek 85 Tahun Penjual Cilok Raih Impian Haji dari Tabungan Receh Harian
Mantan Satpam Bobol Rumah Majikan Usai Dipecat, Rugikan Rp40 Juta
Tiket Ludes H-3, Antusiasme Suporter PSM Makassar Meledak Jelang Laga Kandang
Ibu Korban Peluru Nyasar di Gresik Tangis di Hadapan DPRD Jatim