Bekas Penghuni TPU Kebon Nanas Mulai Hidup Baru di Rusunawa Pulo Gebang

- Senin, 12 Januari 2026 | 14:18 WIB
Bekas Penghuni TPU Kebon Nanas Mulai Hidup Baru di Rusunawa Pulo Gebang

Senang sekali rasanya melihat wajah-wajah warga bekas penghuni TPU Kebon Nanas sekarang. Setelah menunggu, akhirnya mereka bisa mulai hidup baru di Rusunawa Pulo Gebang, Jakarta Timur. Ini adalah bentuk kompensasi dari proses relokasi yang harus mereka jalani.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara langsung menyerahkan kunci rusunawa itu pada Senin (12/1). Dalam kesempatan itu, ia membeberkan data warga yang bersedia pindah.

"Dari total sekitar 103 kepala keluarga, 73 di antaranya memilih untuk menempati rumah susun ini," ujar Pramono.

"Sisanya, sebanyak 30 keluarga, memutuskan untuk mencari tempat tinggal sendiri."

Memang, nantinya warga tetap dikenakan biaya sewa. Tapi Pramono memberi keringanan yang cukup berarti. Ada pengecualian untuk kelompok tertentu.

"Enam bulan pertama gratis. Dan untuk warga lansia, mereka bebas sewa seumur hidup," katanya.

Kebijakan gratis enam bulan itu bukan tanpa alasan. Menurut Pramono, masa adaptasi itu penting. Bayangkan, mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, sekaligus berusaha mempertahankan sumber penghidupan yang mungkin kini jaraknya jadi lebih jauh.

Di sisi lain, fasilitas di Rusunawa Pulo Gebang terbilang lengkap. Mulai dari taman bermain anak, jogging track, masjid, sampai lapangan futsal tersedia di sana. Bagi warga, ini lebih dari sekadar pindah rumah. Ini soal harga diri.

Salah seorang warga yang ditemui Pramono mengungkapkan harapannya dengan nada haru.

"Harapannya pasti ingin kehidupan yang lebih baik, Pak. Selama ini kami sering dicap negatif hanya karena tinggal di area TPU. Dengan pindah ke sini, kami berharap bisa diperlakukan lebih manusiawi lagi."

Program relokasi ini sejatinya adalah bagian dari upaya Pemprov DKI mengatasi masalah lahan. TPU Kebon Nanas yang sebelumnya dihuni warga, akan dikembalikan fungsinya.

"Dengan begitu, lahan yang sebelumnya ditempati kurang lebih 3.000 makam itu, nantinya bisa menampung sekitar 1.000 makam baru," jelas Pramono.

Gubernur menyadari betul proses adaptasi ini tidak mudah. Itulah sebabnya ia tak hanya memberi keringanan biaya, tapi juga meminta dukungan penuh dari jajarannya.

"Saya minta Dinas Sosial, Wali Kota setempat, dan Dinas Perumahan turun tangan. Pendampingan sangat dibutuhkan, terutama untuk urusan pendidikan anak dan juga mencari mata pencaharian baru," tutup Pramono.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar