Hizbullah Klaim 25 Serangan ke Israel Selatan, Tiga Tentara Lebanon Tewas Diserang Udara

- Minggu, 07 Juni 2026 | 10:45 WIB
Hizbullah Klaim 25 Serangan ke Israel Selatan, Tiga Tentara Lebanon Tewas Diserang Udara

Lebanon kembali terseret dalam pusaran konflik Timur Tengah setelah kelompok Hizbullah, yang didukung Iran, melancarkan serangan terhadap Israel pada awal Maret lalu. Kelompok tersebut mengklaim bahwa tindakan mereka justru bertujuan untuk membela rakyat Lebanon, bukan untuk memperluas pertempuran.

Dalam keterangan yang dikutip dari laporan media internasional, Minggu (7/6/2026), Hizbullah menyatakan telah melakukan setidaknya 25 operasi terhadap pasukan dan instalasi militer Israel di Lebanon selatan pada Sabtu (6/6). Serangan itu disebut sebagai bentuk komitmen mereka untuk melindungi Lebanon dan warganya.

“Ini adalah hal terkecil yang dapat dilakukan untuk mencegah Israel dan menghentikannya dari mengejar tujuan berbahayanya terhadap negara kami,” demikian pernyataan kelompok tersebut.

Sementara itu, militer Lebanon mengumumkan bahwa tiga personelnya tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam kendaraan militer di wilayah selatan negara itu. Peristiwa mematikan ini terjadi di tengah upaya gencatan senjata bersyarat yang dimediasi oleh Amerika Serikat.

Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari kantor berita internasional, Sabtu (6/6/2026), militer Lebanon menyebut serangan tersebut sebagai “serangan biadab”. Mereka merinci bahwa korban tewas mencakup seorang perwira dan sejumlah personel lainnya akibat serangan yang menargetkan kendaraan di ruas jalan Khardali-Nabatieh.

Di sisi lain, militer Israel membela tindakannya dengan menyatakan bahwa kendaraan yang menjadi sasaran “bergerak secara mencurigakan” di “zona pertempuran aktif yang telah dievakuasi”. Pihak Tel Aviv menegaskan bahwa operasi mereka ditujukan terhadap “organisasi teroris Hizbullah, bukan melawan tentara Lebanon”. Mereka juga menambahkan bahwa insiden tersebut sedang ditinjau lebih lanjut.

Ketegangan ini berlangsung meskipun gencatan senjata yang dirancang untuk mengakhiri pertempuran antara Israel dan Hizbullah telah mulai berlaku sejak 17 April lalu. Namun, kesepakatan itu nyatanya tidak dihormati oleh kedua belah pihak.

Israel dan Hizbullah, yang sama-sama didukung oleh sekutu regionalnya, kerap saling menuding sebagai pelanggar gencatan senjata. Masing-masing pihak membenarkan serangan mereka sebagai respons atas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh lawan. Gencatan senjata bersyarat yang lebih baru diumumkan oleh utusan Lebanon dan Israel pekan ini di Washington DC, namun implementasinya masih diragukan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar