Benteng Terkuat Runtuh dari Dalam: Ketika Pengkhianatan Lebih Mematikan dari Serangan Musuh

- Senin, 12 Januari 2026 | 10:40 WIB
Benteng Terkuat Runtuh dari Dalam: Ketika Pengkhianatan Lebih Mematikan dari Serangan Musuh

Jadi, benteng sejati itu apa? Bukan tembok batu, melainkan nilai yang meresap ke dalam sanubari. Penghormatan pada hal-hal yang transenden, keadilan yang beradab bukan yang transaksional. Rasa kebersamaan yang lebih kuat dari kepentingan pribadi, semangat gotong royong, dan orientasi pada keadilan sosial.

Nilai-nilai inilah yang membentuk apa yang dulu disebut Antonio Gramsci sebagai hegemoni moral. Sebuah kekuasaan yang tak lagi bergantung pada paksaan, tapi pada kesadaran kolektif. Mungkin ini sebabnya negara-negara macam Iran, China, atau India dengan segala kompleksitas dan kontradiksinya punya pemahaman yang mirip: ketahanan negara tidak cuma dibangun dari senjata. Tapi dari disiplin ideologis.

Coba lihat. Iran bertahan bukan karena teknologi militernya yang kebal. Tapi karena di sana, kesetiaan pada ideologi lebih dihargai daripada keuntungan pribadi. China menjaga stabilitasnya bukan cuma dengan aparat keamanan, tapi juga meski tak sempurna dengan kesatuan visi di kalangan elitnya. India, sebagai republik yang super majemuk, tetap utuh karena narasi kebangsaannya berhasil memberi rasa memiliki, meski terus diuji.

Intinya, semua berangkat dari kesadaran yang sama: pengkhianatan tak bisa dicegah hanya dengan mempercayai orang. Ia harus dicegah dengan sistem nilai yang membuat tindakan khianat menjadi aib besar, bukan peluang emas.

Pada akhirnya, kisah-kisah pengkhianatan entah yang sudah terbukti atau masih sebatas tuduhan mengajarkan pelajaran universal. Negara tidak runtuh karena kurang senjata. Ia runtuh karena kehilangan manusia-manusia yang tak bisa dibeli. Dan manusia seperti itu hanya lahir dari ideologi yang hidup: yang diteladankan oleh elite, ditegakkan tanpa pandang bulu, dan dirasakan keadilannya oleh rakyat kecil.

Tanpa itu? Setiap benteng, sekuat apapun, hanya menunggu saatnya seseorang dari dalam membuka pintu gerbangnya.

(Erizeli Jely Bandaro)


Halaman:

Komentar