Dengan membuka diri pada mata uang alternatif, ASEAN berusaha memperkuat posisi tawar kawasan. Mereka ingin menjaga stabilitas ekonomi regional dengan caranya sendiri. Dan yang jelas, langkah ini menunjukkan kalau pengaruh BRICS sekarang sudah merambah ke kawasan strategis lain, tidak lagi terkurung di antara negara anggotanya saja.
Ambisi Besar, Jalan Terjal
Namun begitu, kita harus realistis. Jalan menuju mata uang BRICS yang benar-benar berfungsi tidak akan mulus. Tantangannya besar sekali. Coba bayangkan, bagaimana menentukan nilai tukar yang adil untuk negara-negara dengan kondisi ekonomi yang berbeda-beda? Lalu, membangun kepercayaan pasar internasional itu butuh waktu dan konsistensi. Belum lagi menyatukan kepentingan ekonomi negara-negara BRICS sendiri yang sangat beragam.
Tanpa fondasi stabilitas dan transparansi yang kokoh, mata uang baru ini berisiko tinggi. Bisa-bisa ia cuma jadi simbol politik belaka, sebuah wacana megah yang akhirnya jarang dipakai di transaksi nyata.
Peringatan Serius, Bukan Akhir Cerita
Jadi, apa arti semua ini bagi dolar AS? Kesediaan ASEAN jelas sebuah peringatan serius. Tapi, mengatakan era dolar sudah berakhir? Itu terlalu gegabah. Mungkin lebih tepat kalau kita bilang dunia sedang bergerak, pelan tapi pasti, menuju sistem moneter yang multipolar. Nantinya, dolar tidak akan lagi berdiri sendirian sebagai satu-satunya raja.
Satu hal yang pasti: langkah ASEAN ini adalah pesan yang keras dan jelas. Ketergantungan tunggal pada satu mata uang global mulai dipertanyakan banyak pihak. Dan perubahan besar dalam arsitektur keuangan dunia? Itu bukan lagi sekadar omongan di seminar. Rasanya, angin perubahan sudah mulai berhembus.
Artikel Terkait
Ketua Gema Bangsa Usul Ganti Parliamentary Threshold dengan Ambang Batas Fraksi
Kapolri Tegaskan Persatuan Nasional Kunci Hadapi Dampak Krisis Global
Dua Advokat Gugat MK, Minta Syarat Calon Presiden Dilarang Berkeluarga dengan Petahana
KPK Periksa 14 Saksi Terkait Dugaan Pemerasan Bupati Pati