Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan

- Minggu, 11 Januari 2026 | 23:06 WIB
Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan

Udara di gang-gang sempit Grand Bazaar Teheran terasa asing. Biasanya, tempat yang jadi jantung ekonomi tradisional Iran itu riuh oleh tawar-menawar. Tapi pada akhir Desember lalu, yang ada justru keheningan mencekam.

Itu bukan kedamaian. Lebih mirip "calm before the storm". Dunia baru menyadari betapa berbahayanya situasi itu ketika para pedagang mulai menurunkan pintu besi toko mereka secara massal, tanggal 28 Desember 2025. Republik Islam Iran jelas sedang menghadapi ujian berat.

Hari ini, 9 Januari 2026, kerusuhan sudah berlangsung tiga belas hari. Awalnya cuma protes harga roti dan nilai tukar Rial yang anjlok. Kini, gelombangnya telah berubah jadi pemberontakan nasional yang mengancam fondasi kekuasaan teokrasi.

Paradoks Subsidi dan Rial yang Runtuh

Semua berawal dari angka-angka yang mengerikan. Di pasar gelap, Rial Iran terjun bebas sampai menyentuh 1,45 juta per dolar AS. Bagi warga biasa, ini vonis kemiskinan instan, bukan cuma statistik.

Pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian, yang diharapkan membawa angin moderasi, malah terjepit. Defisit anggaran membengkak akibat sanksi internasional yang makin mencekik. Belum lagi beban biaya militer usai konflik terbuka dengan Israel pertengahan 2025. Akhirnya, Teheran terpaksa menghentikan subsidi mata uang untuk impor pangan.

Akibatnya langsung terasa. Harga kebutuhan pokok daging, minyak goreng, gandum melonjak hingga 300% cuma dalam hitungan hari. Inflasi tahunan dikabarkan tembus 52%. Kelas menengah Iran praktis lenyap.

Dari "Roti" Menuju "Revolusi"

Sejak letupan pertama di Teheran, protes menyebar bak api di padang rumput kering. Cakupannya kini meluas ke lebih dari 285 lokasi di semua 31 provinsi. Mashhad, Isfahan, Tabriz semua jadi medan tempur antara pengunjuk rasa dan aparat.

Yang menarik, narasinya bergeser. Kalau di hari-hari awal teriakan "Kami lapar!" yang mendominasi, sekarang slogan di jalanan berubah jadi lebih tajam: "Mati bagi diktator!" Bahkan ada dukungan terbuka untuk tokoh oposisi di luar negeri.

Mahasiswa di Universitas Teheran bergabung dengan buruh minyak di selatan. Aliansi lintas kelas yang jarang terjadi ini bikin situasi makin pelik.

Menurut lembaga HAM internasional, korban jiwa sudah mencapai sedikitnya 45 orang, termasuk anak-anak dan personel keamanan. Ribuan lainnya ditahan dalam razia-razia malam.


Halaman:

Komentar