Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan

- Minggu, 11 Januari 2026 | 23:06 WIB
Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan

Bayang-bayang Trump dan Tekanan Maksimum

Dinamika global turut memengaruhi situasi dalam negeri Iran. Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih membawa kebijakan "Maximum Pressure 2.0" yang lebih agresif.

Dari Air Force One, Trump memberi peringatan keras.

Bagi rezim di Teheran, ini dianggap provokasi dan intervensi. Tapi bagi banyak demonstran, pernyataan itu memberi harapan meski juga risiko bahwa gerakan mereka dapat momentum internasional.

Respon Teheran: Tangan Besi dan Keretakan Internal

Pemerintah merespons dengan cara yang familier, tapi lebih keras. Sejak 8 Januari, mereka memutus koneksi internet total untuk menghentikan koordinasi massa. Garda Revolusi (IRGC) pun dikerahkan ke titik-titik vital.

Namun begitu, ada tanda-tanda keretakan di internal. Jaksa Agung Mohammad Movahedi-Azad menginstruksikan tindakan tanpa kompromi terhadap "perusuh".

Tapi Presiden Pezeshkian justru mengakui secara terbuka bahwa banyak tuntutan rakyat itu "sah dan berdasar". Dualisme ini menunjukkan perdebatan sengit di koridor kekuasaan: tindas total seperti tahun 2022, atau beri konsesi ekonomi yang nyaris mustahil dilakukan mengingat kas negara yang kosong.

Di Persimpangan Jalan

Iran benar-benar di ujung tanduk. Berbeda dengan protes "Woman, Life, Freedom" tahun 2022 yang digerakkan isu sosial-budaya, kerusuhan 2026 ini didorong oleh perut yang lapar. Sejarah mencatat, revolusi yang dipicu krisis pangan jauh lebih sulit dipadamkan hanya dengan pentungan dan peluru.

Masa depan rezim ini bergantung pada satu hal: kemampuan menstabilkan Rial dalam waktu dekat. Atau, mendapatkan bantuan luar negeri mungkin dari blok ekonomi timur. Kalau tidak, "Januari Berdarah" ini bisa jadi awal dari keruntuhan sebuah sistem yang telah bertahan hampir setengah abad.


Halaman:

Komentar