Parlemen Iran Ancam AS dan Israel Jadi Sasaran Balasan Militer

- Minggu, 11 Januari 2026 | 14:42 WIB
Parlemen Iran Ancam AS dan Israel Jadi Sasaran Balasan Militer

Suasana di Iran semakin mencekam. Demonstrasi yang berawal dari protes ekonomi kini telah berubah menjadi tantangan terbuka terhadap kekuasaan para ulama. Di tengah keruhnya situasi ini, ancaman militer pun mulai bergema di ruang sidang parlemen.

Mohammad Bagher Qalibaf, Ketua Parlemen Iran yang dikenal keras, memberikan peringatan serius pada Minggu lalu. Ia menyatakan bahwa militer Amerika Serikat dan Israel akan menjadi "target yang sah" jika Washington nekat menyerang Iran.

Ini bukan sekadar retorika biasa. Pernyataan Qalibaf ini penting karena untuk pertama kalinya Israel secara terbuka disebut sebagai pihak yang bakal kena imbas jika konflik dengan AS memanas. Sidang parlemen saat itu berlangsung panas. Beberapa anggota parlemen bahkan berhamburan ke depan mimbar, teriak-teriak "Death to America!"

Ancaman itu tentu bukan muncul dari ruang hampa. Ketegangan antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv memang sedang memuncak. Pemicunya adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan kesiapan untuk bertindak militer dan dukungannya bagi para demonstran di Iran.

Di sisi lain, gelombang protes di jalanan telah memakan korban yang tidak sedikit. Menurut aktivis HAM yang berbasis di AS, sedikitnya 116 orang tewas dan sekitar 2.600 lainnya ditahan. Angka ini menggambarkan betapa berdarahnya represi yang terjadi.

Peringatan dari penguasa pun semakin keras. Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, tak main-main. Ia menyebut siapa pun yang terlibat protes sebagai "musuh Tuhan" sebuah tuduhan yang dalam hukum Iran bisa berakhir di tiang gantungan. Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi, juga memberi isyarat kuat bahwa penindakan keras akan terus berjalan.

Namun begitu, tekanan justru memunculkan seruan untuk terus melawan. Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir yang hidup di pengasingan, menyerukan aksi lanjutan di akhir pekan. Ia mendorong para demonstran untuk membawa bendera singa dan matahari, simbol era monarki, sebagai cara merebut ruang publik.

Meski demikian, dukungan untuk Pahlavi ini tidak bulat. Memang ada teriakan dukungan untuk Shah terdengar di kerumunan, tapi sulit memastikan apakah itu dukungan politik yang sesungguhnya atau sekadar kerinduan akan masa lalu sebelum revolusi 1979. Banyak demonstran mungkin lebih fokus pada tuntutan konkret hari ini ketimbang romantisme sejarah.

Pada akhirnya, akar masalahnya tetap ada di sana. Aksi ini memang bermula pada akhir Desember lalu, dipicu anjloknya nilai mata uang rial dan penderitaan ekonomi. Tapi dalam hitungan hari, amarah rakyat telah meluas jauh melampaui urusan dompet. Kini, yang terdengar adalah teriakan untuk menggulingkan sistem yang telah berkuasa selama empat dekade. Sebuah tuntutan yang, bagi pemerintah, sama sekali tak bisa ditawar.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar