Suasana di Iran semakin mencekam. Demonstrasi yang berawal dari protes ekonomi kini telah berubah menjadi tantangan terbuka terhadap kekuasaan para ulama. Di tengah keruhnya situasi ini, ancaman militer pun mulai bergema di ruang sidang parlemen.
Mohammad Bagher Qalibaf, Ketua Parlemen Iran yang dikenal keras, memberikan peringatan serius pada Minggu lalu. Ia menyatakan bahwa militer Amerika Serikat dan Israel akan menjadi "target yang sah" jika Washington nekat menyerang Iran.
Ini bukan sekadar retorika biasa. Pernyataan Qalibaf ini penting karena untuk pertama kalinya Israel secara terbuka disebut sebagai pihak yang bakal kena imbas jika konflik dengan AS memanas. Sidang parlemen saat itu berlangsung panas. Beberapa anggota parlemen bahkan berhamburan ke depan mimbar, teriak-teriak "Death to America!"
Ancaman itu tentu bukan muncul dari ruang hampa. Ketegangan antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv memang sedang memuncak. Pemicunya adalah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan kesiapan untuk bertindak militer dan dukungannya bagi para demonstran di Iran.
Di sisi lain, gelombang protes di jalanan telah memakan korban yang tidak sedikit. Menurut aktivis HAM yang berbasis di AS, sedikitnya 116 orang tewas dan sekitar 2.600 lainnya ditahan. Angka ini menggambarkan betapa berdarahnya represi yang terjadi.
Artikel Terkait
Exxon dan Chevron Berbeda Sikap Soal Kembali ke Venezuela
BMW Berpelat Dinas Palsu Viral, Kemhan Tegaskan Kendaraan Itu Tak Sah
Key to the Phoenix Heart: Pernikahan Politik yang Berubah Jadi Cinta di Tengah Perang
Di Balik Sorotan Murid Berprestasi, Ada Mereka yang Diam-diam Berjuang