Peringatan dari penguasa pun semakin keras. Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, tak main-main. Ia menyebut siapa pun yang terlibat protes sebagai "musuh Tuhan" sebuah tuduhan yang dalam hukum Iran bisa berakhir di tiang gantungan. Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi, juga memberi isyarat kuat bahwa penindakan keras akan terus berjalan.
Namun begitu, tekanan justru memunculkan seruan untuk terus melawan. Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir yang hidup di pengasingan, menyerukan aksi lanjutan di akhir pekan. Ia mendorong para demonstran untuk membawa bendera singa dan matahari, simbol era monarki, sebagai cara merebut ruang publik.
Meski demikian, dukungan untuk Pahlavi ini tidak bulat. Memang ada teriakan dukungan untuk Shah terdengar di kerumunan, tapi sulit memastikan apakah itu dukungan politik yang sesungguhnya atau sekadar kerinduan akan masa lalu sebelum revolusi 1979. Banyak demonstran mungkin lebih fokus pada tuntutan konkret hari ini ketimbang romantisme sejarah.
Pada akhirnya, akar masalahnya tetap ada di sana. Aksi ini memang bermula pada akhir Desember lalu, dipicu anjloknya nilai mata uang rial dan penderitaan ekonomi. Tapi dalam hitungan hari, amarah rakyat telah meluas jauh melampaui urusan dompet. Kini, yang terdengar adalah teriakan untuk menggulingkan sistem yang telah berkuasa selama empat dekade. Sebuah tuntutan yang, bagi pemerintah, sama sekali tak bisa ditawar.
Artikel Terkait
Kasus Korupsi CCTV Rp2 Miliar di Makassar Mandek, Kejaksaan Dinilai Lamban
Berkas Kasus Penyiraman Andrie Yunus Dinyatakan Lengkap, Segara Dilimpahkan ke Pengadilan Militer
Islah Bahrawi Ungkap Mahfud MD sebagai Inspirasi Keberaniannya Kritik Prabowo
Stok Beras Pemerintah Capai Rekor Tertinggi 4,72 Juta Ton