Masjid Jami Koba: Saksi Bisu Sejarah di Balik Renovasi Megah

- Jumat, 27 Februari 2026 | 01:45 WIB
Masjid Jami Koba: Saksi Bisu Sejarah di Balik Renovasi Megah

TVRINews, Bangka Tengah

Di kawasan Bundaran Tugu Ikan, Koba, berdiri Masjid Jami Koba. Bangunannya megah, dan statusnya jelas: ini adalah masjid tertua di Kabupaten Bangka Tengah. Tapi fungsinya jauh melampaui sekadar tempat shalat. Bagi warga sekitar, masjid ini adalah penjaga memori, sebuah bangunan yang sarat dengan jejak sejarah panjang Pulau Bangka Belitung.

Menurut catatan, fisik masjid ini pertama kali dibangun pada 1970. Lokasinya sendiri punya cerita. Tanah tempatnya berdiri sekarang, dulunya adalah bekas kawasan rumah kepresidenan atau lebih tepatnya keresidenan pada masa kolonial Belanda. Fakta itu saja sudah membuat nuansa sejarahnya terasa begitu kental.

Sejak peresmiannya sekitar tahun 1971, masjid ini tak pernah benar-benar berhenti berubah. Jemaah terus bertambah, dan pembenahan pun dilakukan bertahap untuk mengakomodasi mereka. Namun renovasi paling besar terjadi mulai akhir 2008. Pengerjaannya tidak sebentar, makan waktu hampir sepuluh tahun lamanya.

Hasilnya, penampilannya kini jauh lebih cantik dan megah. Tapi di balik sentuhan arsitektur modern itu, ada bagian penting yang sengaja dipertahankan. Enam tiang penyangga asli di bagian tengah masjid tetap dibiarkan berdiri. Mereka bagai saksi bisu yang diam-diam bercerita tentang identitas bangunan lama.

Keberadaan tiang-tiang itu justru menciptakan harmoni yang unik. Mereka berpadu dengan detail arsitektur baru dan balutan cat yang bersih, menciptakan dialog antara masa lalu dan masa kini.

Dari segi desain, nuansa lokal sangat dominan. Arsitektur Masjid Jami Koba mengusung ciri khas adat Melayu dengan kuat. Coba lihat kubah utamanya. Bentuknya jelas terinspirasi dari tudung saji, sebuah elemen budaya yang sangat familiar di masyarakat setempat.

Di sisi lain, akses masuknya terdiri dari tiga pintu kaca utama. Yang menarik, setiap daun pintu dihiasi ukiran kaligrafi Arab yang indah. Sentuhan ini memberikan kesan artistik sekaligus religius, menyambut setiap jemaah yang datang.

Dengan segala lapisan sejarah dan nilai budayanya, Masjid Jami Koba bukan cuma bangunan tua. Ia adalah landmark hidup yang terus berdenyut, mengabdi pada umat sekaligus melestarikan cerita bagi generasi mendatang.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar