Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan tidak hanya relevan dalam konteks politik dan hukum, tetapi juga memiliki dimensi ekologis yang mendasar. Pernyataan itu disampaikan dalam acara nonton bareng film "Maira Generasi Penjaga Bumi" di bioskop Blok M Square, Jakarta Selatan, yang dihadiri oleh mahasiswa dan komunitas pemuda setempat.
"Selama ini, kita sering hanya memaknai empat pilar dalam konteks politik, hukum, dan kehidupan sosial saja. Namun, marilah kita melihatnya dari sudut yang lebih dalam dan lebih mendasar," ujar Rerie sapaan akrab Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin, 1 Juni 2026.
Menurut anggota Komisi X DPR RI itu, nilai kebangsaan pada hakikatnya berbicara tentang tiga relasi utama: hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, serta manusia dengan alam. Ia menekankan bahwa empat konsensus kebangsaan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika memiliki makna ekologis yang kuat dan sering kali terabaikan.
"Ketika kita berbicara tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, itu tidak hanya dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga kemampuan kita untuk tidak merusak lingkungan. Kita tidak bisa menyebut diri kita beradab jika kita merusak ruang hidup kita sendiri," tegas politikus Partai NasDem tersebut.
Rerie menilai film "Maira Generasi Penjaga Bumi" bukan sekadar tontonan, melainkan cermin yang merefleksikan hubungan manusia dengan hutan dan alam, lengkap dengan pilihan serta konsekuensinya. Ia mengajak penonton untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan, memahami, dan mengaitkan pesan film itu dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, film "Teman Tegas Maira" menyuguhkan pesan kuat tentang relasi manusia dengan alam dan makna menjaga kehidupan.
"Teman Tegar Maira bukan sekadar film tentang persahabatan, tetapi tentang rumah, kehilangan, dan keberanian menjaga apa yang tersisa," ujar Wibi.
Ia menambahkan bahwa melalui perjalanan tokoh Maira dan Tegar, film ini mengingatkan bahwa alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari cerita, budaya, dan masa depan yang harus dijaga bersama. "Dengan latar Papua yang indah, musik yang menyentuh, dan pesan yang kuat, film ini membuat kita bertanya: apakah kita masih mendengar bisikan alam sebelum semuanya benar-benar terlambat?" ucapnya.
Artikel Terkait
Metode Kakeibo: Teknik Pencatatan Manual dari Jepang untuk Disiplin Menabung dan Mengurangi Belanja Impulsif
Sekretaris Kabinet Bantah Kunjungan Luar Negeri Prabowo Sekadar Seremonial, Sebut Ada Capaian Konkret
Lima Jenazah Satu Keluarga Korban Ledakan Bom Perang Dunia II di Biak Dimakamkan
Kapolda Riau Ajak Masyarakat Jadikan Hari Lahir Pancasila Kompas Moral Jaga Persatuan Bangsa