Lalu, seperti apa pemimpin ideal menurutnya? Sosok yang berjiwa muda. Terbuka. Dan yang penting, matang karena pengalaman dan studi serius yang dilaluinya sendiri, bukan karena warisan atau koneksi.
“Harus dicari yang masih berjiwa muda, tapi maju karena pengalaman mandiri dan teruji dalam studi. Bukan asal muda atau sekadar tampak progresif,” jelasnya.
Di sisi lain, Henri juga mengakui bahwa tidak semua pemimpin senior itu kolot. Ada juga yang justru matang karena perjalanan karirnya, tetap bisa mengikuti zaman, dan yang terpenting, mau mendengarkan. Namun begitu, ia melihat tren global yang patut diwaspadai.
Ambil contoh Amerika Serikat. Menurut pengamatannya, kepemimpinan yang terlalu tua berpotensi menciptakan paradoks yang berbahaya.
“Punya presiden terlalu tua, seperti Amerika Serikat sekarang, pemerintahannya bersistem demokrasi tapi substansinya cenderung otoriter,” katanya.
“Banyak kebijakan mengabaikan masukan karena tidak hirau terhadap dunia yang sudah berubah cepat.”
Peringatannya jelas: ketika pemimpin berhenti mendengar, demokrasi perlahan bisa melenceng. Bukan karena sistemnya yang berubah, tapi karena substansinya mengering. Dan di era yang serba berkecepatan tinggi ini, telinga yang tertutup adalah sebuah kemewahan yang tak bisa kita bayar.
Artikel Terkait
Kejaksaan Agung Mutasi Sejumlah Pejabat, Termasuk Kajati Sulawesi Selatan
Dirjen Imigrasi: Dominasi WN Tiongkok dalam Pelanggaran Imigrasi Karena Proporsi Terbesar
Ibu Rumah Tangga di Polman Tewas Diduga Tersengat Listrik di Kamar Mandi
IHSG Menguat ke 7.500, Analis Buka Target 7.856 dengan Peringatan Koreksi