Udara sore di Kedunggalar, Ngawi, terasa hangat ketika Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang akrab disapa Ibas, turun langsung melihat saluran air. Kunjungannya ini bagian dari rangkaian reses, dan fokusnya jelas: irigasi. Bagi Wakil Ketua MPR dari Partai Demokrat itu, jaringan pengairan ini bukan cuma parit dan pintu air. Ia menyebutnya urat nadi pertanian kita.
"Sore ini saya hadir untuk satu pesan sederhana, air adalah kehidupan. Irigasi adalah nadi pertanian," ujar Ibas, Jumat (27/2/2026) lalu.
Pernyataannya punya dasar yang kuat. Lebih dari 70% produksi padi nasional, ternyata, menggantungkan diri pada sistem irigasi. Memang, secara angka Indonesia punya lahan irigasi yang luas, mencapai lebih dari 7 juta hektar. Tapi Ibas tak menampik, banyak di antaranya yang kondisinya sudah memprihatinkan dan butuh perhatian serius.
"Setiap peningkatan efisiensi irigasi 10 persen dapat menaikkan produktivitas padi hingga 5-8 persen. Artinya, irigasi bukan sekadar proyek teknis, tetapi strategi kedaulatan pangan," tegasnya.
Amanat yang Tertulis di Konstitusi
Lebih jauh, Ibas menekankan bahwa soal pengelolaan air ini sebenarnya sudah diamanatkan konstitusi. Ia mengutip Pasal 33 UUD 1945, yang menyebut bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat. Maknanya, menurutnya, sangat gamblang.
"Negara wajib menjaga air untuk petani. Tidak ada panen tanpa irigasi. Tidak ada kesejahteraan tanpa air," jelasnya.
Ngawi, sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur, memegang peran strategis. Namun di lapangan, tantangannya nyata. Mulai dari sedimentasi yang menyumbat saluran, tanggul bocor, hingga distribusi air yang belum merata. Di sisi lain, Ibas juga mengingatkan peran masyarakat. Kelestarian lingkungan sekitar sumber air, kata dia, adalah kunci keberlanjutan.
"Lingkungan harus kita jaga bersama. Air yang mengalir ke sawah berasal dari alam yang sehat. Jika lingkungannya rusak, maka pertanian juga akan terdampak," ucapnya.
Dalam kunjungan itu, Ibas tak lupa menyoroti aset lain Ngawi: Museum Trinil. Tempat dengan nilai sejarah dan ilmiah tinggi itu, ia sebut, adalah kebanggaan yang harus dilindungi bersama untuk generasi mendatang.
Lebih dari Sekadar Angka
Dampak irigasi yang baik, bagi Ibas, sangat konkret. Dengan pasokan air yang lancar, petani bisa menanam dua bahkan tiga kali setahun. Peningkatan indeks pertanaman itu langsung terasa di kantong mereka.
"Jika produktivitas naik satu ton per hektare saja, dengan luasan ratusan hektare, nilai tambahnya bisa mencapai miliaran rupiah. Ini bukan angka kecil. Ini penghasilan rakyat," katanya dengan penekanan.
Ia pun mengaitkannya dengan program ketahanan pangan nasional. Peningkatan produksi pertanian, dengan irigasi sebagai fondasi utamanya, harus terus didorong. Untuk mengelola fondasi itu, Ibas mendorong penguatan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Gotong royong dalam pengelolaan irigasi, baginya, adalah "teknologi sosial" paling ampuh yang kita miliki.
Ke depan, modernisasi mutlak diperlukan. Mulai dari pemantauan digital, pintu air otomatis, hingga pemetaan berbasis data. Ia juga mengajak anak muda terlibat. "Yang menguasai air, menguasai masa depan. Pertanian hari ini harus presisi, berbasis data, dan melibatkan anak muda," serunya.
Refleksi di Bulan Ramadan
Dalam suasana Ramadan, Ibas mengajak semua pihak berefleksi. Momentum menahan haus dan dahaga selama puasa, seharusnya mengingatkan betapa berharganya air bagi kehidupan, terutama bagi petani.
"Ramadan mengajarkan kita menahan haus. Petani setiap hari merasakan pentingnya air. Maka pengelolaan air harus adil dan berpihak," katanya.
Menutup sambutannya, ia menegaskan komitmen untuk mengawal rehabilitasi jaringan irigasi, menguatkan anggaran, dan mempererat kolaborasi. Pesannya ringkas namun padat: "Jika irigasi lancar, petani tenang. Jika petani tenang, panen makmur. Jika panen makmur, rakyat bahagia. Ramadan religi, menguatkan negeri."
Artikel Terkait
Seskab Teddy Indra Wijaya Borong 35 Sapi Kurban dari Peternak Lokal Boyolali
Bus PO Coyo Hangus Terbakar di Jalur Pantura Cirebon, Diduga Korsleting AC
Penelitian Ungkap Alasan Ilmiah Kursi Tengah di Bus Sering Kosong Meski Banyak Penumpang Berdiri
Pemprov Banten Kembali Raih Opini WTP dari BPK untuk Kesepuluh Kalinya Berturut-turut