Ketika Humor Tak Lagi Ramah: Absurditas dan Rasa Tak Nyaman yang Sering Disalahartikan

- Minggu, 11 Januari 2026 | 08:50 WIB
Ketika Humor Tak Lagi Ramah: Absurditas dan Rasa Tak Nyaman yang Sering Disalahartikan

Absurditas, Gimmick, dan Ketidaknyamanan yang Kita Salahpahami

Ada satu kebiasaan lama yang kerap muncul saat kita menilai sebuah karya. Begitu merasa tidak nyaman, kita langsung tergoda untuk mencapnya dangkal. Saat merasa terganggu, kita pun mencari jalan pintas: ah, ini cuma gimmick.

Padahal, nggak semua yang mengganggu itu kosong, lho. Kadang, justru di situlah sesuatu sedang bekerja.

Perdebatan soal Mens Rea apakah ia absurd atau cuma sensasi sejatinya bukan cuma perdebatan tentang komedi belaka. Ini lebih tentang cara kita membaca kritik. Tentang batas toleransi publik. Dan, jujur saja, tentang ketakutan kita pada bahasa yang nggak mau jinak.

Pertanyaannya bukan cuma: apa maksudnya? Tapi lebih ke: kenapa kita pengin buru-buru nutupin suara itu?

Absurditas Itu Nggak Diciptakan Supaya Nyaman

Absurditas sering banget disalahartikan sebagai kekacauan belaka. Dianggap sebagai permainan logika yang asal dibengkokin. Atau kebebasan tanpa tanggung jawab.

Padahal, kalau kita tilik tradisinya, absurditas justru lahir dari keseriusan. Ia muncul ketika bahasa yang normal udah gagal menjelaskan realitas yang nggak rasional. Saat sistem terlihat rapi, tapi hasilnya timpang. Ketika aturan tampak suci, eh, dampaknya malah melukai.

Nah, di titik itulah absurditas bekerja. Tujuannya bukan buat nerangin, tapi buat memperlihatkan retak. Ia nggak nawarin jawaban. Yang ia tawarkan adalah cermin yang bikin kita nggak yakin sama wajah sendiri.

Ketika Humor Nggak Mau Lagi Jadi Ramah

Sebagian besar humor yang beredar di ruang publik dirancang biar aman. Ia mengolok, tapi nggak sampai menggugat. Mengkritik, tapi jangan sentuh fondasi. Lucu, lalu selesai. Dan tepuk tangan pun menghilang entah ke mana.

Tapi ada jenis humor lain yang menolak fungsi kayak gitu. Humor yang nggak mau cuma jadi jeda, tapi justru pengin jadi gangguan. Humor model begini nggak kasih jarak aman antara penonton dan materinya. Ia nggak bilang, “tenang, ini cuma bercanda.” Malah, ia balik nanya pelan-pelan: kalau ini cuma bercanda, kenapa kita gelisah?

Di sinilah banyak orang mulai nyebutnya gimmick. Bukan karena ia kosong, tapi karena ia nggak kasih kepastian makna.

Gimmick dan Absurditas: Dua Hal yang Sering Tertukar

Cara kerja gimmick itu sederhana: ia menempel, mencolok, dan bisa dilepas tanpa mengubah isi. Kalau gimmicknya dihilangkan, pesannya tetap utuh.

Absurditas? Bekerja sebaliknya. Ia bukan lapisan luar, melainkan struktur dalam. Kalo absurditasnya dicabut, yang tersisa bukan pesan yang sama tapi pesan yang udah mati.

Nah, dalam konteks ini, pertanyaan pentingnya bukan: apakah ini provokatif? Tapi: provokasinya punya fungsi nggak, sih?

Ketika absurditas dipakai buat nunjukin kontradiksi kekuasaan, buat membongkar logika yang kita anggap wajar, atau memaksa audiens menghadapi ketidaknyamanannya sendiri, ya berarti ia bukan gimmick. Ia adalah metode.

Rasa Nggak Nyaman Itu Reaksi, Bukan Bukti Karya Itu Kosong

Kita punya kecenderungan nyeleneh: menyamakan nggak paham dengan nggak bermakna. Padahal, seringnya yang terjadi cuma satu: kita belum terbiasa sama bahasanya.

Karya yang langsung dipahami jarang bikin konflik. Karya yang langsung disukai ya jarang banget menggugat.

Sebaliknya, karya yang ambigu yang mengundang tafsir, memicu salah baca sering dianggap berbahaya. Bukan karena ia merusak, tapi karena ia nggak bisa langsung dikendaliin.

Jadi, ketika publik bereaksi keras, itu seringkali bukan tanda kalau karyanya kosong. Melainkan tanda bahwa ia nyentuh wilayah yang belum kita sepakati bareng-bareng.

Absurditas dan Risiko Disalahpahami: Dua Sisi Koin yang Sama

Absurditas selalu bekerja dengan risiko. Ia nggak kasih penjelasan moral di akhir cerita. Nggak nutup dengan kesimpulan yang rapi.


Halaman:

Komentar