Gempa bumi mengguncang kawasan Melonguane, Sulawesi Utara, Sabtu malam kemarin. Awalnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan magnitudonya mencapai 7,1. Namun, setelah analisis lebih lanjut, angkanya direvisi menjadi 6,4.
Menurut sejumlah saksi, guncangan terasa cukup kuat di beberapa wilayah. Getaran itu terjadi tepatnya pukul 21.58 WIB.
Daryono, selaku Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, memberikan penjelasan rinci melalui keterangan tertulisnya.
"Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M 6.4. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 3,76° LU ; 126,95° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 40 km arah tenggara Melonguane, Sulawesi Utara pada kedalaman 31 km,"
Kedalaman itu, kata Daryono, menempatkan gempa ini dalam kategori gempa dangkal. Sumbernya diduga berasal dari aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Maluku. Mekanisme pergerakannya disebut sebagai oblique normal, atau kombinasi mendatar dan turun.
Dampak guncangan ternyata dirasakan cukup luas. Di Tobelo dan Kepulauan Sitaro, skala intensitasnya mencapai III-IV MMI. Artinya, getaran dirasakan oleh banyak orang yang berada di dalam rumah.
"Daerah Morotai dengan skala intensitas III MMI. Getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa seperti ada truk lewat. Sementara di Ternate, Minahasa Utara, dan Bitung, skalanya II-III MMI,"
Berita baiknya, gempa dengan karakteristik seperti ini tidak berpotensi tsunami. Hingga pukul 22.20 WIB, tercatat satu kali gempa susulan dengan magnitudo 4,6. BMKG terus memantau perkembangan aktivitas gempa susulan di wilayah tersebut.
Artikel Terkait
Jadwal Salat Bandung Rabu 10 Juni 2026: Imsak Pukul 04.26, Subuh 04.36, dan Isya 18.58 WIB
Polisi Maroko Tangkap 11 Tersangka Jaringan Narkoba dan Pencucian Uang Lintas Negara
Studi: Piala Dunia 2026 Berpotensi Jadi Edisi Paling Boros Karbon Akibat Penerbangan Massal
Marapthon Dinilai Ubah Cara Publik Konsumsi Media Digital, Pengamat Soroti Pergeseran ke Konten Partisipatif