Oleh: Ricardo Julio
Surakarta - TVRINews
Usianya sudah 74 tahun. Bu Welas tak sanggup lagi mendorong gerobak sayurnya berkeliling kampung. Tapi di sudut hatinya yang paling dalam, masih tersimpan satu harapan yang tak pernah padam: masa depan sang cucu, Julio. Mereka tinggal berdua di Kampung Kedung Tungkul, Mojosongo, dengan segala keterbatasan yang ada.
Hidup Julio memang tak mudah. Ayahnya sudah tiada sejak ia masih balita. Pendidikannya pun mandek di kelas tiga Sekolah Dasar. Tanpa arah yang jelas, hari-harinya lebih banyak dihabiskan di jalanan, bergaul dengan teman-teman yang salah, dan terjerumus dalam kenakalan remaja.
“Dulu Julio nakal. Sama temen-temannya sering lempar-lemparan batu atau pisau (tawuran),” kenang Bu Welas, pada suatu Minggu di pertengahan April 2026.
Melihat cucunya seperti itu, hati nenek tua ini rasanya seperti diiris-iris. Ia pun berusaha mencari cara. Akhirnya, Julio didaftarkan ke Sekolah Rakyat. Sekolah berasrama gratis ini digagas oleh Presiden Prabowo Subianto, khusus untuk anak-anak dari keluarga yang benar-benar kekurangan.
Dan perubahan itu pun datang, perlahan tapi nyata. Setelah masuk Sekolah Rakyat, sikap Julio berubah drastis. Ia jadi lebih tenang, semangat belajarnya kembali, dan yang paling mengharukan, hubungannya dengan neneknya jadi jauh lebih dekat dan hangat.
“Senang, di sini dia bisa mendekap, merangkul, menciumi saya. Katanya, ‘Mak aku seneng, di rumah sering dimarahi. Di sekolah gak pernah dimarahi’,” ujar Welas, menceritakan ucapan Julio.
Bagi Bu Welas, kehadiran sekolah ini seperti angin segar. Selain jadi tempat yang aman buat Julio bertumbuh, beban finansialnya pun jauh berkurang. Dulu, Julio sering minta uang saku yang jumlahnya tak sedikit buat ukuran mereka. Sekarang, itu bukan masalah lagi.
Kini, di usianya yang senja, harapan Bu Welas sederhana saja. Ia ingin Julio tumbuh jadi pribadi mandiri, punya kehidupan yang layak nantinya.
“Pengennya pinter dan cucu saya jadi orang baik. Tidak terlantar. Saya sudah tua. Nanti sewaktu-waktu dipanggil yang maha Kuasa, nitip cucu saya Julio. Baik-baik di sana. Jadi orang yang baik,” harapnya dengan suara lirih penuh doa.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Presiden Prabowo.
“Matur nuwun Pak Prabowo. Putu kulo pun sekolah teng Sekolah Rakyat. Matur sembah nuhun. Kadose pinter, dados tiang sing genah.”
Artinya, terima kasih Pak Prabowo, cucunya bisa sekolah di sana. Semoga jadi orang yang hidupnya baik.
Buat dua orang ini, Sekolah Rakyat lebih dari sekadar bangunan tempat belajar. Itu adalah titik balik. Sebuah kesempatan yang menyelamatkan dan mengubah jalan hidup Julio ke arah yang lebih cerah.
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
PBB Peringatkan Eskalasi Berbahaya Konflik Rusia-Ukraina, Korban Sipil Melonjak 21 Persen
Komisi III DPR Bantah Penggunaan APBN untuk Sapi Kurban Presiden Langgar Hukum dan Syariat
Pengunjung Ragunan Tembus 16.810 Orang pada Hari Pertama Libur Idul Adha 2026
Polisi Bongkar Jaringan Curanmor Terintegrasi Peredaran Sabu dan Obat Keras di Jakarta Timur, 8 Tersangka Diamankan