Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap Iran selama delapan malam berturut-turut. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi ini merupakan respons atas tewasnya dua prajurit Amerika dalam serangan di Yordania.
Dalam pernyataannya, CENTCOM mengonfirmasi bahwa serangan intensif itu bertujuan melumpuhkan infrastruktur militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Jet tempur dan kapal perang AS membombardir situs pengawasan, gudang senjata bawah tanah, jembatan, rel kereta api, serta fasilitas logistik untuk memutus rute pasokan menuju kota pelabuhan Bandar Abbas.
Serangan ini dipicu oleh hantaman rudal balistik dan drone Iran di pangkalan militer AS di Yordania yang menewaskan dua tentara AS, satu hilang dalam tugas, dan empat lainnya luka-luka. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 terluka sejak ketegangan kembali memuncak.
Eskalasi dan Dampak Regional
Pemerintah Iran secara resmi menangguhkan komitmennya terhadap nota kesepahaman damai yang ditandatangani bulan lalu. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memperingatkan bahwa mereka telah menyiapkan "pelajaran yang tidak akan dilupakan" bagi Amerika Serikat.
Iran membalas dengan menghujani pangkalan militer dan infrastruktur energi di Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Yordania menggunakan drone serta rudal balistik IRGC. Pertempuran sengit di Selat Hormuz menyebabkan lalu lintas kapal tanker minyak mentah anjlok drastis dan memicu lonjakan harga energi global.
Menyusul situasi yang kian tidak terkendali, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan perjalanan global yang meminta seluruh warga negara Amerika di luar negeri, khususnya di Timur Tengah, untuk meningkatkan kewaspadaan.
Artikel Terkait
Serangan AS ke Iran Memasuki Pekan Kedua, Balas Kematian Dua Tentara di Yordania
Harga Minyak Turun karena Aksi Ambil Untung, Kekhawatiran Pasokan Timur Tengah Masih Bayangi
Serangan Iran ke Pangkalan Yordania Tewaskan Dua Tentara AS, Satu Personel Hilang
AS Balas Serangan Iran di Yordania, Dua Tentara Tewas