Menteri Agama Tekankan Kolaborasi dengan Ormas di Pembukaan Muktamar Mathlaul Anwar

- Minggu, 12 April 2026 | 19:30 WIB
Menteri Agama Tekankan Kolaborasi dengan Ormas di Pembukaan Muktamar Mathlaul Anwar

Ribuan orang memadati Plaza Aspirasi KP3B di Kota Serang, Sabtu lalu. Suasana hangat dan khidmat menyelimuti acara pembukaan Muktamar XXI Mathla’ul Anwar, sebuah hajatan besar organisasi kemasyarakatan yang punya nama. Menteri Agama Nasaruddin Umar sendiri yang hadir untuk membuka secara resmi rangkaian kegiatan yang bakal berlangsung beberapa hari ke depan.

Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin menekankan satu hal penting: negara tak bisa jalan sendirian. Membangun masa depan umat, menurutnya, perlu kolaborasi.

“Mempersiapkan umat masa depan bukan sesuatu yang bisa dilakukan sendiri oleh negara, tetapi harus melalui kerja sama,”

ujar Nasaruddin, Minggu (12/4).

Pernyataan itu sekaligus menggarisbawahi peran strategis organisasi keagamaan seperti Mathla’ul Anwar. Di sisi lain, acara pembukaan itu sendiri dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci. Gubernur Banten Andra Soni dan Wakil Gubernur Dimyati Natakusumah tampak hadir, bersama unsur TNI-Polri dan tentu saja, para pimpinan Mathla’ul Anwar dari berbagai daerah.

Bicara soal peran, Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar Embay Mulya Syarief punya pandangan. Muktamar kali ini, katanya, adalah momen bersejarah. Bukan cuma karena agenda lima tahunan, tapi juga untuk pertama kalinya digelar di Ibu Kota Provinsi Banten.

“Muktamar ini bukan hanya agenda rutin,” jelas Embay, “tetapi momentum strategis untuk memperkuat arah organisasi dalam menjawab tantangan zaman.”

Tema besar yang diusung adalah “Membangun Peradaban Umat Menuju Kemandirian Bangsa.” Fokusnya jelas: merumuskan langkah-langkah konkret untuk memperkuat peran organisasi di tiga pilar utama; pendidikan, dakwah, dan kerja-kerja sosial.

Gubernur Andra Soni, dalam kesempatan itu, menyebut Mathla’ul Anwar lebih dari sekadar organisasi biasa. Ia menyebutnya sebagai warisan ulama dan pilar peradaban yang masih terus bernafas hingga kini. Kontribusinya nyata, terutama di bidang pendidikan Islam berbasis madrasah yang sudah dirintis sejak sebelum Indonesia merdeka.

“Mathla’ul Anwar bukan sekadar organisasi, tetapi warisan ulama dan pilar peradaban umat yang terus hidup dan berkembang,” tegas Andra.

Data di lapangan sepertinya mendukung pernyataan itu. Di Banten saja, ratusan madrasah berdiri di bawah naungannya. Secara nasional, jaringan mereka terus berkembang, menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di balik layar, persiapan acara sebesar ini tentu tidak sederhana. Ketua OC Muktamar, Asep Rohmatulloh, memastikan segala sesuatunya sudah disiapkan secara matang. Dari hal administratif sampai teknis pelaksanaan, semuanya diatur sedemikian rupa agar berjalan lancar.

“Seluruh tahapan Muktamar disusun secara sistematis,” ujar Asep, “agar berjalan tertib, efektif, dan berkualitas.”

Ia juga menjamin keamanan dan kondusivitas acara, berkat dukungan penuh dari pemerintah daerah dan aparat. Memang, sempat ada dinamika di lapangan seperti soal penertiban atribut namun begitu, semua itu sudah diselesaikan lewat jalur komunikasi. Dialog jadi kuncinya.

“Seluruh dinamika telah diselesaikan dengan baik melalui dialog. Saat ini seluruh tahapan Muktamar berjalan sesuai rencana,” jelasnya lagi.

Pada akhirnya, muktamar ini diharapkan jadi lebih dari sekadar forum internal. Ini adalah ruang strategis untuk konsolidasi, merumuskan arah baru, dan menyiapkan respons terhadap tantangan zaman yang kian kompleks; dari transformasi digital sampai persoalan ekonomi umat.

Harapannya ke depan, Mathla’ul Anwar bisa tetap adaptif tanpa kehilangan jati diri. Tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, sambil terus berkontribusi nyata bagi bangsa.

“Muktamar ini diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru,” pungkas Asep Rohmatulloh, “tetapi juga melahirkan arah kebijakan yang mampu menjawab tantangan zaman.”

Sebuah tugas berat, tentu saja. Tapi semangat ribuan peserta yang hadir di Serang sepertinya menunjukkan kesiapan untuk memulainya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar