Mimpi Mobil Nasional: Ambisi Politik atau Karya Nyata?

- Kamis, 20 November 2025 | 11:40 WIB
Mimpi Mobil Nasional: Ambisi Politik atau Karya Nyata?

Halusinasi Mobil Nasional: Mimpi yang Tak Kunjung Jadi Nyata?

Presiden Soeharto dulu punya ambisi besar dengan mobil Timor. Lalu, giliran Jokowi yang menggebu-gebu dengan Esemka. Kini, Prabowo sepertinya juga akan mengikuti jejak mereka lewat Maung produksi Pindad. Maaf saja, saya harus bilang, ini semua terasa seperti halusinasi.

Saya sebenarnya sangat menghormati Pindad. Tapi kalau mereka serius bermimpi membuat mobil nasional, wah, itu mimpi yang masih terlalu jauh dari kenyataan.

Mari kita lihat BYD, raksasa mobil listrik dunia. Mereka punya 110.000 insinyur dan teknisi. Coba bayangkan angka sebanyak itu. Pindad punya berapa? Esemka punya berapa? Jangan tanya, nanti malah sedih.

Membuat mobil dengan merek sendiri jelas bukan perkara mudah. Bukan seperti menggoreng bakwan. Bermimpi punya mobil nasional itu boleh-boleh saja, tapi jangan sampai rakyat dibuai janji yang sebenarnya hanya bungkus dari ambisi politik belaka.

Faktanya, selama ini mobil nasional yang selalu digembar-gemborkan di Indonesia sebenarnya adalah produk luar negeri yang dimodifikasi. Jujur saja. Apakah Pindad benar-benar bisa membuat mesin sendiri? Desain 100% orisinal? Kapasitas mereka untuk itu masih sangat dipertanyakan.

Memang, tak ada salahnya bermimpi. Tapi kalau berlebihan, ya jadinya lebay. Proyek mobil nasional seperti Esemka, misalnya, lebih terasa seperti alat pencitraan politik ketimbang sebuah karya nyata.

Kalau memang serius ingin Indonesia punya mobil nasional, fokusnya seharusnya pada pembangunan sumber daya manusia. Lahirkan jutaan insinyur dan teknisi berkualitas. Tingkatkan kualitas pendidikan dari SD hingga perguruan tinggi. Kalau basis SDM kita sudah kuat, mobil nasional akan lahir dengan sendirinya.

Tapi anehnya, program yang digaungkan justru makan siang gratis, bukan pendidikan gratis yang lebih mendasar.

Lihatlah BYD. Dengan 110.000 insinyurnya, mereka berhasil menciptakan Atto 1 yang penjualannya di Indonesia pada Oktober lalu bahkan mengalahkan gabungan Ayla, Agya, Calya, Brio, dan Sigra. Satu mobil saja bisa mengangkangi semua pesaingnya.

Inilah yang namanya kekuatan sesungguhnya. Inilah bukti bangsa yang besar, bukan sekadar omong besar.

Merek-merek lain tentu tak mau kalah. Persaingan semakin sengit. Lalu, bagaimana dengan Pindad dan Esemka? Kalau jadi proyek negara yang dipaksakan pakai APBN, ya mungkin saja bisa cuan. Tapi sekali lagi, itu bukan mobil nasional yang sesungguhnya.

(Tere Liye)

__________________________________

BYD Atto 1, yang dikenal secara global sebagai BYD Seagull, adalah mobil listrik city car kompak. Di Indonesia, mobil ini hadir dalam dua pilihan varian: Dynamic dan Premium.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar