Pertama, soal Gambar dan Ingatan. Dalam cerpen Miranda Seftiana, gambar ingatan dibangun dengan sadar lewat proses memasak bersama ibu dan anak. Aktivitas di dapur itu direkam dengan detail, menciptakan potret mental yang kuat.
Sementara di cerpen Edwin, gambaran ingatan muncul lewat Yudhis yang sedang memasak. Ini seperti memori individual yang dibalut bayangan masa kecilnya bersama mamak. Saat ia mengaduk bumbu, yang terlihat bukan cuma masakan, tapi juga sosok ibu di dapur rumah lama.
Kedua, peran Bahasa. Bahasa punya andil besar membuat memori bersifat kolektif. Dalam Semangkuk Perpisahan di Meja Makan, dialog antara ibu dan anak berfungsi sebagai sarana mewariskan nilai. Nasihat ibu tentang hidup, mati, dan peran perempuan mengubah aktivitas memasak jadi sesuatu yang lebih dalam. Ia bukan lagi pekerjaan domestik belaka, tapi memori yang punya makna bersama.
Di cerpen Edwin, bahasa berperan lewat penamaan. Coba lihat nama warung "Lidah Masakan Ibu". Itu adalah bentuk verbal yang mengukuhkan ingatan tentang ibu sebagai milik bersama. Bukan cuma milik Yudhis. Dengan begitu, memori itu mendapat pengakuan sosial dan jadi bagian dari identitas keluarga.
Lalu, ada Rekonstruksi Masa Lalu. Ini unsur penting dalam membentuk memori kolektif. Dalam cerpen Miranda Seftiana, rekonstruksinya bersifat antisipatif. Sang ibu dengan sadar menciptakan memori yang nantinya akan diingat dan dibangun ulang oleh anaknya setelah ia tiada. Memori itu jadi semacam bekal emosional.
Sedangkan dalam Lidah Masakan Ibu, tokoh Yudhis terus-menerus merekonstruksi masa kecilnya lewat pengulangan resep. Masa lalu dihidupkan kembali, disesuaikan dengan kondisi sekarang, tidak dibiarkan statis.
Keempat, Pelokalan Ingatan. Ini tampak jelas di kedua cerpen melalui ruang domestik. Dapur dan masakan rumah berfungsi sebagai ruang simbolik tempat ingatan keluarga dilokalkan. Meski anggota keluarga mungkin hidup di alam yang berbeda, ruang itu tetap menjadi pusat memori bersama yang bisa diakses dengan cara masing-masing.
Terakhir, Ingatan Keluarga. Kedua cerpen ini menunjukkan bahwa ingatan keluarga adalah inti dari segalanya. Dalam Semangkuk Perpisahan di Meja Makan dan Lidah Masakan Ibu, kenangan tentang sosok ibu sengaja dibentuk dan diwariskan. Medium utamanya? Ya, masakan. Dari situlah segalanya berawal dan bertahan.
Artikel Terkait
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan
Prajurit Gugur di Nduga, Ayah Banggakan Tekad Baja Anaknya yang Tak Pernah Menyerah
Megawati Bikin Heboh, Nyanyikan Cinta Hampa di Panggung Rakernas PDIP