Lewat unggahan di Truth Social, Donald Trump memberi sinyal bahwa Nvidia boleh menjual chip AI-nya ke China. Tapi, izin ini bukan tanpa syarat. Ada aturan ketat yang menyertainya, terutama soal siapa pembelinya. Hanya pelanggan yang sudah mendapat lampu hijau dari pemerintah AS yang bisa mendapatkannya.
Pengumuman itu muncul Senin lalu. Trump bilang, langkah ini diambil buat menyeimbangkan dua hal: kepentingan ekonomi dan keamanan nasional Amerika.
"Kami akan melindungi Keamanan Nasional, menciptakan Lapangan Kerja Amerika, dan menjaga keunggulan Amerika dalam AI,"
Begitu kira-kira pernyataannya, seperti dilansir Reuters. Keputusan serupa juga berlaku untuk perusahaan chip AS lain, misalnya AMD dan Intel. Kabarnya, ini hasil dari lobi keras CEO Nvidia, Jensen Huang, yang baru-baru ini sowan ke Washington.
Nah, ada satu poin penting yang bikin banyak orang perhatian. Trump bilang, penjualan chip ini bakal kena biaya tambahan 25% untuk pemerintah AS. Awalnya sempat bikin bingung karena dia nulis "$25%", tapi pejabat Gedung Putih kemudian klarifikasi: itu tarif 25 persen, bukan dua puluh lima dolar. Angkanya lebih tinggi dari wacana 15% yang sempat beredar Agustus lalu.
Mekanismenya begini: chip yang diproduksi di Taiwan akan dikenai pajak impor saat masuk AS dulu. Di sana, chip diperiksa keamanannya, baru kemudian diekspor ke China.
Meski terdengar seperti keringanan, perlu diingat bahwa chip H200 yang diizinkan itu bukan yang paling canggih dari Nvidia saat ini. Ia masih satu generasi di belakang chip Blackwell, yang dianggap sebagai semikonduktor AI paling mutakhir di dunia. Trump dengan tegas menegaskan, chip Blackwell dan Rubin (generasi penerusnya) tidak termasuk dalam kesepakatan ini. Bagi pemerintahan Trump, ini adalah sebuah kompromi. AS tetap bisa berbisnis, namun teknologi terbaiknya tetap disimpan untuk diri sendiri dan sekutu-sekutunya.
Nvidia sendiri menyambut keputusan ini dengan positif. Perusahaan itu menyebutnya sebagai langkah yang bijaksana.
"Menawarkan H200 kepada pelanggan komersial yang telah disetujui dan diperiksa oleh Departemen Perdagangan memberikan keseimbangan yang matang dan sangat baik untuk Amerika,"
demikian pernyataan mereka, seperti dikutip BBC. Pasar pun langsung bereaksi. Saham Nvidia disebut-sebut naik sekitar 2% dalam perdagangan after-hours.
Tapi, di balik respons positif pasar, situasinya sebenarnya masih keruh. Trump mengklaim Presiden China Xi Jinping merespons baik langkah ini. Namun faktanya, Beijing sudah lebih dulu memerintahkan perusahaan teknologinya untuk mengurangi ketergantungan pada chip AS. Mereka didorong beralih ke produsen domestik, seperti Huawei. China memang sedang getol membangun ekosistem chip sendiri.
Di sisi lain, kebijakan Trump ini juga disambut kritik pedas di Washington, terutama dari kalangan 'elang' atau kelompok garis keras. Anggota DPR dari Partai Republik, John Moolenaar, dan beberapa senator Demokrat menyebut keputusan ini blunder besar. Kekhawatiran mereka jelas: chip H200 itu bisa saja dimanfaatkan militer China, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), untuk mengembangkan kemampuan AI mereka.
"Nvidia seharusnya tidak dalam pengaruh ilusi, China akan meniru teknologinya, memproduksinya secara massal, dan berusaha mematikan Nvidia sebagai pesaing,"
kata Moolenaar. Jadi, meski lampu hijau sudah diberikan, jalan di depannya masih panjang dan berliku.
Artikel Terkait
WhatsApp Bisa Diakses Tanpa Scan Kode QR, Pakar Ingatkan Risiko Penyadapan dan Pelanggaran Privasi
YouTube Batasi Akses Pengguna di Bawah 16 Tahun di Indonesia Patuhi PP Tunas
Peneliti Temukan Spesies Baru Laba-laba Hantu di Habitat Bambu Jawa
OAIL Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Bukan Meteor, Melainkan Sampah Antariksa