PT Harum Energy Tbk (HRUM) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar 310 juta dolar AS sepanjang tahun 2026. Anggaran ini menandai pergeseran strategi perseroan yang dinilai tidak lagi membutuhkan investasi besar-besaran seperti pada periode sebelumnya.
Manajemen HRUM menjelaskan, sebagian besar belanja modal tahun depan akan difokuskan untuk menyelesaikan proyek-proyek pengembangan yang sudah berjalan, khususnya di lini bisnis nikel. Dari total anggaran tersebut, sebanyak 56 persen dialokasikan untuk aset tetap dalam penyelesaian atau construction in progress. Sementara itu, sekitar 31 persen digunakan untuk pengadaan alat berat.
Di sisi lain, tujuh persen dari total capex diperuntukkan bagi pembangunan bangunan dan prasarana, lima persen untuk properti pertambangan, dan sisanya satu persen untuk aset tetap lainnya. Perseroan menilai risiko kenaikan biaya investasi akibat fluktuasi harga pasar relatif terbatas. Hal ini karena sebagian besar kebutuhan belanja modal yang signifikan telah direalisasikan sebelumnya.
"Perusahaan belum memiliki rencana investasi besar tambahan setelah proyek-proyek yang sedang berjalan saat ini selesai," tulis manajemen dalam laporan hasil public expose di keterbukaan informasi, dikutip Minggu (14/6/2026).
Hingga akhir kuartal I-2026, HRUM telah merealisasikan belanja modal sebesar 139 juta dolar AS, atau sekitar 44,8 persen dari total anggaran capex tahun ini. Dari nilai tersebut, hampir seluruhnya sekitar 137 juta dolar AS digunakan untuk pengembangan bisnis nikel. Sisanya dialokasikan untuk mendukung kegiatan pertambangan, logistik, dan kebutuhan operasional lainnya.
Artikel Terkait
IHSG Diprediksi Menguat ke Level 6.100 Pekan Depan, Didorong Sentimen Global dan Domestik
BP Tapera Salurkan 77.532 Unit Rumah Subsidi Lewat FLPP hingga Juni 2026, Baru Capai 22,15 Persen dari Target
IHSG Diproyeksikan Tembus Level 6.100 Pekan Depan, Didukung Meredanya Ketegangan Global dan Penguatan Rupiah
Samuel Sekuritas Pangkas Proyeksi Laba Perbankan 2026 Jadi 1,8 Persen Imbas Tekanan Rupiah dan Suku Bunga