"Apakah kita masih punya ruang bagi Tuhan? Apakah keluarga kita masih menjadi tempat kasih?" tanyanya, menyentuh sisi personal setiap pendengar.
Tak lupa, ia menyoroti konteks Jakarta sebagai panggungnya. Ibu kota dengan segala kemajemukannya ini dinilainya telah berupaya baik. Pemerintah Provinsi DKI, menurut Nasaruddin, berhasil menciptakan ruang-ruang kebersamaan yang krusial.
"Di kota ini semua identitas bertemu, semua perbedaan berjumpa. Maka kerukunan Jakarta bukan pilihan, tetapi keniscayaan sejarah," katanya.
Apresiasi pun ia sampaikan. Upaya nyata menghadirkan peluang kebersamaan, dari perayaan agama hingga dialog, dinilainya sebagai kunci. Yang penting, setiap keluarga bisa beribadah dengan tenang dan aman. Itu intinya.
Acara itu sendiri berlangsung khidmat. Tampak jelas, pesan tentang keluarga dan kerukunan itu bukan sekadar retorika, tapi sesuatu yang diupayakan betul di tengah dinamika ibu kota.
Artikel Terkait
Siswa Tewas Usai Senapan Rakitan Meledak Saat Ujian Praktik di Siak
ASN Kementan Ubah Pekarangan Sempit Jadi Model Ketahanan Pangan Keluarga
Suami Tewas Ditikam di Pelukan Istri di Lubuklinggau, Pelaku Masih Diburu
Prabowo Saksikan Penyerahan Denda Hutan Rp11,4 Triliun ke Kas Negara