Serangan besar-besaran itu melibatkan 242 drone dan 36 rudal. Yang mengerikan, militer Ukraina melaporkan rudal hipersonik itu melesat dengan kecepatan luar biasa: 13.000 km per jam.
Korban jiwa berjatuhan. Pihak berwenang mengkonfirmasi 4 orang tewas dan lebih dari 20 terluka. Gempuran itu juga memutus aliran listrik ke lebih dari setengah juta rumah. Bayangkan situasinya: salju lebat, suhu menusuk hingga minus 10 derajat Celcius, tanpa air dan pemanas. Warga terpaksa berlindung di ruang bawah tanah, bersembunyi di balik kursi, dan membungkus diri dengan selimut.
Wali Kota Kiev mengungkapkan salah satu korban tewas adalah seorang petugas medis darurat. Korban malang itu terkena dua serangan drone beruntun. Jenazahnya tergeletak di tepi jalan, tertutup salju yang terus turun.
Sebuah video yang dirilis koresponden perang Rusia memperlihatkan enam kilatan cahaya terang menghantam tanah. Disusul kemudian oleh ledakan keras dan rentetan ledakan susulan.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menilai serangan ini sebagai eskalasi yang serius.
“Penggunaan rudal Oreshnik oleh Rusia yang dilaporkan, merupakan eskalasi yang jelas terhadap Ukraina dan dimaksudkan sebagai peringatan bagi Eropa dan AS,” tulisnya.
“Negara-negara Uni Eropa harus lebih meningkatkan persediaan pertahanan udara mereka dan segera bertindak. Kita juga harus meningkatkan biaya perang ini bagi Moskow, termasuk melalui sanksi yang lebih keras,” tambah Kallas.
Kilas Balik: Serangan Pertama Oreshnik
Sebenarnya, Rusia pertama kali menembakkan rudal Oreshnik pada November 2024 lalu. Sasaran waktu itu adalah sebuah pabrik militer di Ukraina. Sumber-sumber dari Ukraina menduga, rudal pada serangan pertama itu hanya membawa hulu ledak tiruan, bukan bahan peledak sungguhan, meski tetap menyebabkan kerusakan.
Penggunaan terbaru ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan pengamat. Doug Barry, seorang Spesialis Pertahanan dan Kedirgantaraan di International Institute for Strategic Studies, London, mencoba menganalisis.
“Penggunaan terbarunya menimbulkan pertanyaan apakah ini amunisi uji coba lama atau rudal produksi baru,” ujarnya.
Artikel Terkait
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan
Prajurit Gugur di Nduga, Ayah Banggakan Tekad Baja Anaknya yang Tak Pernah Menyerah
Megawati Bikin Heboh, Nyanyikan Cinta Hampa di Panggung Rakernas PDIP