Ada juga yang mencoba menghubung-hubungkan SBY melalui Roy Suryo. Logika ini, bagi Aam, sudah salah kaprah dari awal. Roy Suryo kini berdiri sebagai individu independen, tanpa lagi memiliki ikatan struktural dengan Partai Demokrat atau SBY. Bahkan, Roy Suryo sendiri sudah membantah keterlibatan mantan bosnya itu.
"Narasi itu sebenarnya sudah gugur dengan sendirinya," jelas Aam.
Di sisi lain, Aam melihat ada pola yang lebih sistematis di sini. Serangan terhadap SBY belakangan ini bukan sekadar kritik biasa. Ini upaya untuk membangun persepsi negatif lewat framing yang diulang-ulang, terutama di media sosial. Isu ijazah Jokowi cuma pintu masuk. Target sesungguhnya adalah delegitimasi moral seorang tokoh bangsa yang pengaruhnya masih kuat.
Ironisnya, justru karena SBY memilih menjaga jarak dari hiruk-pikuk politik praktis hari ini, posisinya jadi rentan. Dia tidak menyerang, tapi malah jadi sasaran tembak.
"Dilemahkan secara reputasi," ucap Aam.
Ia mengingatkan, demokrasi kita harusnya diisi dengan kritik yang berdasar data, bukan tuduhan tanpa bukti. Ruang publik yang dipenuhi spekulasi dan fitnah hanya akan merusak kualitas demokrasi itu sendiri. Masyarakat perlu lebih cerdas memilah.
"Beda antara informasi dan manipulasi. Jangan sampai kita terjebak dalam narasi adu domba yang justru menguntungkan segelintir pihak," pungkas Aam menutup pernyataannya.
Artikel Terkait
Lima Desa di Aceh Masih Gelap Gulita Pascabencana, Tiang Listrik Roboh Berantakan
Pertemuan Solo: Skenario Terselubung di Balik Kunjungan Eggi-DHL ke Jokowi?
Prabowo Resmikan Sekolah Rakyat, Targetkan 500 Ribu Siswa dari Keluarga Miskin
Ratusan Ton Bawang Ilegal Berbakteri Digagalkan di Gudang Semarang