Ketiga, suci dari haid dan nifas. Dalam kondisi itu, wanita sedang hadas besar. Wudhu biasa nggak bakal ngangkat hadas besar itu. Kalau tetap “memaksakan” wudhu cuma buat jaga kesucian, ya nggak dihitung ibadah. Beda dengan orang junub. Nabi justru menganjurkan berwudhu dulu sebelum makan atau tidur.
Seperti hadis riwayat Imam Muslim:
“Apabila Rasulullah Saw berada dalam kondisi junub, kemudian beliau ingin makan atau tidur, beliau berwudhu sebagaimana wudhu ketika hendak salat.”
Keempat, kulit nggak boleh ada benda yang mengubah sifat air warna, bau, atau rasanya. Air buat bersuci harus mutlak, suci dan mensucikan. Kalau di kulit masih ada sabun, lumpur, atau minyak, lalu langsung kena air, airnya jadi mutaghayyir (berubah). Itu nggak sah dipakai bersuci.
Kelima, harus tahu bahwa wudhu dan mandi wajib itu fardhu. Maksudnya, sadar betul bahwa keduanya wajib dilakukan untuk ngangkat hadas. Ibadah lain yang mensyaratkan suci, baru sah kalau ini sudah ditunaikan. Sesuai kaidah fikih: “Perkara wajib yang tidak dapat sempurna kecuali dengannya (suatu perkara), maka suatu perkara itu menjadi wajib.”
Keenam, nggak boleh menganggap yang fardhu sebagai sunnah. Harus yakin bahwa yang dilakukan adalah kewajiban. Tapi kalau sunnah dikira fardhu, shalatnya tetap sah. Nah, di sinilah pentingnya belajar ilmu thaharah. Biar ibadah nggak setengah-setengah dan bebas keraguan.
Oh ya, ada dua syarat tambahan buat yang punya hadas langgeng misalnya wanita istihadhah, atau orang yang nggak bisa nahan kencing. Yaitu, bersuci harus pas masuk waktu shalat, dan dilakukan secara berurutan tanpa jeda (muwalaah). Sebelumnya, lubang qubul atau dubur perlu disumpal dulu. Kalau saat shalat keluar lagi sesuatu, itu dimaafkan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Desti Ritdamaya, Praktisi Pendidikan.
Artikel Terkait
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan, Muhammadiyah dan NU Tegaskan Bukan Sikap Resmi
Ketika Humor Tak Mau Lagi Hanya Menghibur: Absurditas dan Batas Toleransi Publik
Ketika Koruptor Beragama Islam, Mengapa Agamanya yang Diserang?
Asia Timur dan Pasifik: Lapangan Kerja Tumbuh, Tapi Kualitasnya Tergerus