Akibatnya, kapal-kapal itu jadi bangkai besi terapung. Mesin hidup, tapi tak bisa bergerak. Asuransi dari London diputus otomatis. Biaya sandar ditolak. Logistik Venezuela dicekik pelan-pelan sampai biru.
Tanpa bensin, tank tidak jalan. Tanpa uang, loyalitas pun buyar. Pada akhirnya, Maduro jatuh bukan karena kalah perang. Ia jatuh karena 'dompet'-nya dimatikan dari jarak ribuan kilometer.
"Lawfare": Perang Gaya Baru
Yang bikin merinding sebenarnya bukan pesawatnya. Tapi penumpangnya. Ada agen FBI Hostage Rescue Team (HRT) di dalam misi itu.
Kenapa bawa polisi? Ini cerdik sekaligus liciknya. Amerika ingin bingkai ini bukan sebagai "Invasi Militer" yang melanggar PBB. Mereka membingkainya sebagai "Penegakan Hukum", menangkap buronan narkoba.
Konsep kedaulatan negara ala Westphalian resmi jadi sampah. Batas negara dianggap tidak ada. Hukum Amerika berlaku di mana saja. Ekstrateritorial.
Kalau mereka mau ambil orang di Jakarta, Moskow, atau Caracas, tinggal pakai dalih "surat perintah penangkapan". Inilah Lawfare. Perang menggunakan hukum sebagai senjata.
Puing-Puing Geopolitik
Kasihan Rusia. Bisa dibayangkan Vladimir Putin mungkin sedang minum vodka sambil pusing tujuh keliling.
Venezuela itu 'kapal induk daratan' Rusia di Amerika Latin. Tempat parkir pesawat pembom nuklir Tu-160 Blackjack. Investasi Rosneft miliaran dolar ada di sana. Dalam satu malam, aset strategis itu hangus. Rusia kehilangan pijakan, tanpa sempat membalas.
China juga rugi besar. Utang Venezuela ke Beijing mungkin tak akan pernah kembali.
Alarm untuk Kita
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Membaca berita Caracas ini rasanya getir. Pahit sekali.
Kita punya nikel. Kita punya laut yang luas. Kita seksi di mata mereka.
Tapi coba lihat diri kita di cermin. Radar kita? Masih banyak bolongnya. Sistem perbankan? Masih numpang jalur pipa SWIFT milik Barat. Data kita? Tersimpan di cloud asing.
Operasi Caracas mengajarkan satu hal telak: Kedaulatan tanpa teknologi yang mandiri itu omong kosong. Diplomasi tanpa otot siber cuma puisi cengeng belaka.
Kalau besok kita dianggap 'nakal' entah karena hilirisasi atau karena vokal di PBB apakah kita siap? Siapkah jika tombol "OFF" ditekan dari Washington? Siapkah jika bank kita offline dan pesawat asing sudah melayang di atas Monas tanpa terdeteksi?
Di meja makan raksasa geopolitik hari ini, pilihannya cuma dua. Anda duduk memegang garpu sebagai pemain. Atau, Anda telanjang di atas piring sebagai menu santapan.
Caracas sudah jadi menu. Semoga kita lekas bangun. Sebelum giliran kita tiba.
Alhamdulillah...
Artikel Terkait
Menara Haji Indonesia di Makkah Ditargetkan Beroperasi pada 2028
Depok Bergerak: Pelebaran Jalan dan Rekayasa Lalu Lintas untuk Atasi Macet Kronis Sawangan
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang
Tenda Pengungsian di Gaza Diserang Drone, Lima Anak di Antaranya Tewas