[Foto: Nadiem Makarim di sidang Pengadilan Tipikor]
Di ruang sidang yang sunyi itu, Nadiem Makarim mengakui sesuatu yang mungkin sudah lama diduga banyak orang: dia lengah. Lengah menghadapi perlawanan dari dalam.
Mantan Mendikbudristek itu membacakan nota keberatannya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin lalu. Suaranya terdengar jelas. Lima tahun memimpin kementerian, katanya, telah menghasilkan sejumlah capaian nyata. Satu juta guru honorer akhirnya diangkat jadi P3K, mendapat nafkah yang lebih layak. Lalu ada sertifikasi PPG yang bisa diakses online, memudahkan ribuan guru. Tak ketinggalan, Platform Merdeka Mengajar yang diunduh dua juta pendidik sebuah terobosan yang katanya menghemat anggaran pelatihan hingga triliunan rupiah.
Tapi semua itu, rupanya, punya harga.
"Tapi beda tipis perbedaan antara idealisme dan kenaifan," ujarnya.
"Yang terbukti dari kasus ini adalah saya lengah untuk mengantisipasi akan adanya resistensi terhadap perubahan."
Artikel Terkait
Wamen Pertanian Soroti Impor Gula Rafinasi Tekan Harga Petani
Tersangka Peragakan Ulang Pembunuhan Sadis dan Pemotongan Mayat di Brebes
Analis MNC Sekuritas: IHSG Masih Rentan Koreksi Meski Ditutup Menguat
Pelatih PSM Akui Laga Kontra PSIM di Yogyakarta Akan Berat dan Sulit