Perhatikan kata kuncinya: mineral. Ini bukan cuma soal minyak bumi. Ini tentang emas, coltan, dan logam tanah jarang. Coltan saja, bahan baku penting untuk ponsel dan baterai mobil listrik, nilainya diperkirakan melampaui USD 100 miliar.
Lalu, kenapa emas tiba-tiba lebih menarik daripada minyak? Alasannya sederhana. Membangun kembali infrastruktur minyak Venezuela yang tua dan rusak membutuhkan dana besar, mungkin USD 58 miliar, dan waktu yang tidak sebentar. Prosesnya bisa makan bertahun-tahun.
Di sisi lain, emas yang sudah ada di brankas bank sentral sifatnya sangat likuid. Aset ini bisa langsung dijadikan jaminan utang. Begitu ada pemerintahan transisi yang diakui oleh Amerika Serikat, skenarionya akan berjalan cepat. Emas bisa jadi jaminan untuk pinjaman IMF, dana rekonstruksi, atau restrukturisasi utang. Intinya, ia memberikan neraca keuangan yang instan.
Faktanya, sebagian dari emas itu sekitar USD 1,8 miliar masih membeku di Bank of England sejak 2018. Hambatan hukum seperti itu bisa saja mencair seiring dengan perubahan rezim.
Kondisi pasar pun mendukung. Emas telah meroket 65% sepanjang 2025, performa terbaiknya sejak 1979. Bank of America bahkan memprediksi harga bisa menuju $5.000 per ons. Dalam situasi geopolitik yang bergejolak seperti sekarang, emas selalu punya premi tersendiri.
Seperti yang dikomentari seorang netizen, "emang ini mamarika perampok ulung ya..."
Artikel Terkait
Jadwal Musda Golkar Sulsel Tunggu Kepastian dari Pusat
Karcis Parkir Tak Sesuai Picu Pengeroyokan Juru Parkir di Makassar
Proyek Wisata Green Topejawa Mangkrak, Aktivis Desak Audit Total
Kejari Barru Resmikan Mess Pegawai 16 Kamar, Dukung Program Zero Indekos