Harapan besar pernah digantungkan pada pesisir Topejawa. Kawasan di Kabupaten Takalar itu diimpikan bakal jadi magnet wisata baru. Tapi kenyataannya? Proyek Green Topejawa Coastal justru jadi bahan pembicaraan yang tak kunjung reda, dan bukan karena hal yang baik.
Dengan anggaran yang disebut-sebut mencapai miliaran rupiah, kawasan seluas 1,5 hektare di Desa Topejowa, Mangarabombang ini, malah memunculkan banyak tanda tanya. Hasilnya dinilai jauh dari kata maksimal. Bahkan, cenderung memprihatinkan.
Kalau datang ke lokasi sekarang, suasana sepinya langsung terasa. Beberapa bangunan terlihat lapuk, ditambah rumput liar yang tumbuh subur di area seharusnya ramai pengunjung. Fasilitas yang ada tampak rusak dan tak terawat. Akses masuknya pun terkatup, seolah-olah tempat ini sudah lama ditinggalkan. Padahal, proyek yang dikelola Dinas Pariwisata Takalar ini dibangun di era kepemimpinan bupati sebelumnya, Syamsari Kitta.
Kondisi memilikan ini tentu memantik reaksi. Dari kalangan aktivis antikorupsi, misalnya. Mereka menilai proyek ini perlu ditinjau ulang secara total, terutama soal bagaimana uang rakyat yang begitu besar itu digunakan. Audit menyeluruh dianggap kunci untuk mengungkap ada-tidaknya penyimpangan.
Wakil Ketua Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi, Ramzah Thabraman, bersikap tegas. Menurutnya, semua tahapan proyek harus dibuka untuk diperiksa.
Artikel Terkait
Karcis Parkir Tak Sesuai Picu Pengeroyokan Juru Parkir di Makassar
Kejari Barru Resmikan Mess Pegawai 16 Kamar, Dukung Program Zero Indekos
Barcelona Tumbang 0-2 dari Atletico Madrid di Leg Pertama Perempat Final
Imigrasi Ngurah Rai Deportasi Pimpinan Sindikat Pencucian Uang yang Masuk Daftar Interpol