“Allahumma man waliya min amri ummati syai-an fasyaqqa ‘alaihim fasyquq ‘alaihi, wa man waliya min amri ummati syai-an farafaqa bihim farfuq bihi.”
Artinya kurang lebih: "Ya Allah, siapa yang memegang urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang memegang urusan umatku lalu ia berlemah lembut pada mereka, maka berlemah lembutlah padanya." (HR. Muslim)
Bahkan, mendoakan keburukan bagi orang yang menzalimi itu adalah hak bagi si tertindas. Ini jelas tercantum dalam QS. An-Nisa' ayat 148.
Nah, berdasarkan nash-nash seperti inilah para Salafush Shalih tak pernah ragu. Mereka tegas mendoakan keburukan bagi penguasa zalim, meski sang penguasa itu masih shalat dan hukum yang diterapkannya secara formal adalah syariat.
Lebih jauh lagi, coba bayangkan.
Kalau perkataan Imam al-Barbahari tadi dibawa ke zaman sekarang. Lalu diterapkan pada 1,8 juta Muslim yang hidup di koloni pemukim ilegal Zionis, atau 4,4 juta Muslim di Amerika, atau 215 juta Muslim di India.
Apa masuk akal mereka harus mendoakan kebaikan untuk Netanyahu, Trump, atau Modi agar tetap diakui sebagai Ahlus Sunnah?
Well, orang yang pikirannya jernih dan hati nuraninya lurus pasti tahu jawabannya.
IQ itu pemberian. Bodoh itu pilihan.
Artikel Terkait
Mabuk dan Tuduhan Uang Patungan, Seorang Pria Tewas Dianiaya Teman Minumnya di Rappocini
Bos Kejahatan Cyber Chen Zhi Diekstradisi dari Kamboja, Aset Triliunan Rupiah Disita
Perselingkuhan Berulang: Kapan Batas Kesabaran dalam Rumah Tangga?
Prabowo Tegaskan Bonus Rp 456 Miliar untuk Atlet SEA Games Bukan Upah, Melainkan Tabungan Masa Depan