Isu perselingkuhan di Indonesia memang bukan hal baru. Tapi belakangan, rasanya makin sering jadi bahan obrolan. Dari gosip selebritas, cerita viral di media sosial, sampai curhatan di grup daring semuanya seolah menggambarkan pola yang sama. Perselingkuhan kerap dianggap sebagai "kesalahan manusiawi" biasa, sesuatu yang bisa dimaafkan asal ada kata maaf. Padahal, bagi banyak keluarga, pengkhianatan ini jauh lebih dalam. Ini bukan cuma soal sakit hati, tapi penghancuran amanah, fondasi paling dasar dari sebuah ikatan pernikahan.
Di sisi lain, kita hidup dalam masyarakat yang mengagungkan nilai-nilai agama dan sosial yang kuat. Rumah tangga dibangun dari kepercayaan dan komitmen moral. Nah, ketika amanah itu dikhianati, berulang kali, muncul pertanyaan yang pelik. Apa iya pernikahan harus dipertahankan hanya demi status, anak, atau sekadar menjaga penampilan di mata tetangga? Atau justru agama dan nilai-nilai luhur itulah yang seharusnya memberi batas tegas ketika sebuah hubungan terus-menerus melukai?
Ketika Amanah Agama Dilanggar
Dalam Islam, pernikahan itu mitsaqan ghalizha. Sebuah perjanjian yang kokoh dan sakral. Kesetiaan adalah bagian tak terpisahkan dari amanah itu. Jadi, perselingkuhan jelas bukan sekadar pelanggaran moral biasa. Ini adalah dosa, yang merusak hak pasangan dan mengoyak ketenangan rumah tangga.
Para ulama sepakat, perselingkuhan berulang menandakan rusaknya amanah. Dalam kajian fikih, perbuatan ini bisa digolongkan sebagai khianat dan kedzaliman. Ya, karena melukai pasangan secara lahir dan batin. Islam memang membuka pintu taubat selebar-lebarnya. Tapi taubat yang sejati bukanlah pengulangan. Ia harus dibarengi perubahan nyata, bukan sekadar kata-kata manis yang habis saat gosip mereda.
Lebih dari itu, agama tidak memerintahkan kita untuk bertahan dalam penderitaan. Ada prinsip yang jelas: la dharar wa la dhirar. Tidak boleh membahayakan dan tidak boleh dibahayakan. Prinsip ini jadi landasan kuat bahwa mempertahankan pernikahan bukan kewajiban mutlak jika yang terjadi justru kemudaratan terus-menerus.
Tekanan Sosial: Antara Gengsi dan Luka yang Nyata
Di lapangan, ceritanya sering kali rumit. Dalam budaya kita yang kolektif, korban perselingkuhan biasanya perempuan sering dapat nasihat untuk "bersabar". Bertahan dianggap lebih terhormat. Perceraian? Itu masih dianggap aib oleh banyak kalangan. Sementara perselingkuhan sendiri justru sering ditutup-tutupi, ditoleransi, asal tidak terbuka ke publik.
Artikel Terkait
Penangkapan Maduro: Saat Hukum AS Menjadi Senjata Perang Baru
Duel Sengit di Coliseum: Getafe vs Real Sociedad Berebut Angin Segar
Nakhoda dan ABK Mesin KM Putri Sakinah Resmi Jadi Tersangka
Mensos: Sekolah Rakyat Tambah 200 Titik, Targetkan 45.000 Siswa pada 2027