Pernah terpikir untuk menjelajahi Kabupaten Sambas di Kalimantan Barat? Saya baru saja kembali dari sana, dan pengalamannya benar-benar berbeda dari yang dibayangkan.
Bandara Singkawang menjadi pintu masuk pertama. Bandara kecil itu cuma punya satu gate, sederhana sekali. Tapi justru di situlah pesonanya. Dari gerbang sederhana ini, perjalanan panjang menuju Sambas dimulai. Butuh sekitar dua jam naik mobil, menyusuri pemandangan pedalaman Kalbar yang masih sangat asli.
Jalannya panjang. Sebagian masih berpasir dan berbatu. Di kiri kanan, hamparan hutan gambut membentang. Sopir yang mengantar bercerita, tanah gambut ini gampang banget terbakar. Cuma butuh sedikit kelalaian, api bisa membesar. Makanya, susah dijadikan perkebunan. Namun begitu, setelah area gambut terlewati, pemandangan berubah total. Kebun nanas dan sawit menghijau sejauh mata memandang.
"Nanas sini manis-manis, Bu. Penjualnya juga jago banget ngupasnya," kata si sopir sambil tertawa.
Sepanjang jalan, kebun sawit memang mendominasi. Tapi ada satu hal yang terus terngiang, sebuah ironi yang diungkapkan beberapa orang.
"Lahan di sini bukan punya orang sini."
"Buah sawit cuma dijual mentah. Harganya ya cuma segitu, tiga ribu sekilo."
Dan yang paling menyentak, "Lucunya, uang dari sawit itu entah mengalir ke mana."
Kalimat-kalimat itu seperti potret kecil. Kekayaan alam yang melimpah, tapi belum tentu dinikmati sepenuhnya oleh perekonomian lokal.
Memasuki wilayah Sambas, saya teringat dua julukan kuat yang melekat padanya. Kalau Singkawang dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng, Sambas punya sebutan "Serambi Mekah Kalbar" dan "Bumi Serumpun Sebalai".
Julukan Serambi Mekah punya akar sejarah yang dalam. Sambas adalah pusat penyebaran Islam di Kalimantan Barat. Di sinilah lahir ulama besar seperti Syaikh Ahmad Khotib Assambasi, yang pengaruhnya dikenal luas.
p>Di sisi lain, Bumi Serumpun Sebalai bicara soal harmoni. Tiga suku besar Melayu, Tionghoa, dan Dayak hidup berdampingan di sini sejak ratusan tahun silam. "Serumpun" artinya satu rumpun, saling menjaga. "Sebalai" berarti satu balai, satu ruang hidup bersama. Prinsip inilah yang membuat Sambas terasa begitu kaya dan toleran.Tanahnya memang subur. Sawit, kopi, jagung, nanas, sampai hasil laut semuanya ada. Tapi ada yang mengejutkan. Menurut sejumlah pedagang, harga sayur di Pasar Sambas bisa lebih mahal dibanding harga di Pulau Jawa. Agak ironis, mengingat daerah ini sangat hijau.
Budaya nongkrong di warung kopi adalah hal lain yang menarik. Tempat ini bukan cuma untuk minum. Ini ruang sosial yang menyatukan generasi. Malam hari ramai anak muda. Pagi hari, terutama akhir pekan, berubah jadi tempat kumpul keluarga. Dari kakek-nenek sampai anak kecil, semua duduk bersama. Suasananya hangat dan hidup.
Oh ya, soal porsi makan. Jangan kaget. Porsi nasinya besar sekali. Kalau di Jawa satu mangkuk kecil cukup, di sini bisa setara dua mangkuk. Harganya? Nyaris sama.
Alamnya, sungguh memesona. Sekitar 39% wilayahnya adalah hutan. Pantainya bersih dan masih perawan. Seperti Pantai Sungai Belacan yang keasliannya benar-benar terjaga karena belum ramai dikunjungi.
Lalu ada Desa Temajuk, di ujung perbatasan dengan Malaysia. Perjalanan ke sana adalah salah satu yang paling indah yang pernah saya lakukan. Jalan aspal membelah hutan, langit biru jernih, bukit-bukit hijau, dan hujan rintik-rintik yang turun sesekali. Pemandangan pulang dari perbatasan itu susah dilupakan.
Tapi, di balik keindahan itu, ada cerita lain. Beberapa warga di Temajuk bilang, harga barang dan bahan makanan dari Malaysia justru lebih murah ketimbang produk lokal. Bahkan, transaksi barter antar warga perbatasan masih sering terjadi berdasarkan kesepakatan mereka sendiri.
Pengalaman paling berkesan mungkin saat mengunjungi Masjid Jami Keraton Sambas. Masjid tertua di Kalbar ini, yang nama lengkapnya Masjid Sultan Muhammad Syafi'oeddin II, bukan cuma bangunan tua. Dari arsitekturnya saja, kita langsung tahu ini adalah saksi bisu sejarah panjang Kesultanan Sambas.
Usai dari masjid, saya menyusuri Sungai Sambas. Airnya masih digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa rumah tradisional masih kokoh di tepian. Melihatnya, serasa menyaksikan sejarah yang masih hidup dan bernapas hingga detik ini.
Pada akhirnya, Sambas bagi saya bukan cuma sekumpulan julukan. Ia adalah perjumpaan. Tempat di mana budaya, alam, sejarah, dan manusia berpadu dalam sebuah narasi yang terus berdenyut.
Artikel Terkait
Asisten Masinis Curiga Sinyal Eror Sesaat Sebelum KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi, 15 Tewas
Sri Mulyani Berduka atas Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek, Sehari Sebelumnya Ia Naik Rute yang Sama
Jasa Raharja Pastikan Santunan Cair untuk Seluruh Korban Kecelakaan Stasiun Bekasi Timur
Ade Armando Bantah Tuding Jusuf Kalla Lakukan Penistaan Agama, Sebut Hanya Kritik Pernyataan ‘Mati Syahid’